Rabu, 05 September 2012

Utsman Ibnu Affan Dzunnurain




        Terbunuhnya khalifah kedua, Umar ibnul Khattab Ra menandakan permulaan jaman baru. Pada waktu itu kaum muslimin memang tidak bergeser dari panji-panji dan prinsip-prinsip mereka, tapi mereka didesak oleh adanya hubungan-hubungan baru, dan adat istiadat baru yang melanda mereka, juga oleh kesulitan-kesulitan sehingga memaksa mereka menaggalkan hasrat dan kehendaknya dalam pencaturan dunia.
        Untuk menghadapi dan mengatasi semua itu, takdir Allah telah memanggil Utsman ibnu Affan untuk memikul beban tanggung jawab yang mengerikan yaitu tanggung jawab memelihara dan mempertahankan jiwa kehidupan periode kenabian. Juga bertanggung jawab dalam menanggulangi pengaruh jaman kerajaan (emperium).


Awal Mula Utsman Masuk Islam
        Takdir Allah lah yang telah menentukan Utsman untuk menyertai rombongan pertama yang menerima hidayah dan agama Allah.
Utsman termasuk salah satu dari ke tujuh orang yang selalu mendampingi menyertai perjuangan Rasulullah Saw. Dia amat mengenal siapa dan bagaimana Muhammad ketika pertama menjadi nabi. Dia mengetahui dengan sebenar-benarnya ucapan Muhammad.
        Pada suatu hari ketika pulang dari perjalanan dagangnya ke Syam, dan ketika rombongan khalifahnya beristirahat di tempat teduh (antara Ma'an dan Azzaqa), Utsman dan kawan-kawannya tertidur.
Ketika sedang tidur, tiba-tiba ia bermimpi mendengar suara yang menyeru mereka agar bangun karena orang yang bernama "AHMAD" telah muncul di kota Makkah.
        Rupanya telah sampai berita gembira kepada Utsman tentang hadirnya seorang nabi Allah, nabi akhir jaman. Mendapat beruta itu, apakah Utsman bersifat pasif atau ragu?
Ternyata "tidak!" Sifatnya yang pemalu, kelapangan dadanya dan kemurahan jiwanya mendorongnya untuk bertemu dengan Muhammad Saw. Itulah awal keislamannya.


Sifatnya Yang Pemalu
        Setiap sahabat nabi Saw memiliki keistimewaan sifat, baik yang tampak dalam ucapannya maupun dalam amal perbuatannya. Oleh karena itu Rasulullah Saw mengemukakan titik kelebihan mereka agar dapat dijadikan contoh. Beliau bersabda:
                              "Orang yang paling kasih sayang antara umatku ialah Abubakar, dan paling teguh dalam memelihara ajaran Allah ialah Umar, dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman."
(HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhakim, Attirmidzi)

        Sifat pemalu itulah yang mendorong Utsman Ra menjadi orang dermawan yang penuh welas asih, sehingga ketika Rasulullah Saw tengah mempersiapkan pasukan, "Al' usrah", seluruh biayanya ditanggung oleh Utsman seorang diri. Rasulullah Saw menyambutnya dengan ucapan:
                         "Tidak akan ada sesuatu yang dapat membahayakan Utsman dengan apa yang dia lakukan hari ini. Ya, Allah, ridhoilah Utsman, sesungguhnya aku ridho kepadanya." (HR. Attirmidzi)


Mengatasi Kesulitan Kaum Muhajirin
         Ketika kaum muslimin hijrah dari Makah ke Madinah, mereka dihadapkan pada masalah kesulitan air. Di sana memang ada sebuah sumur, tapi sumur itu milik seorang Yahudi dan airnya sengaja ia perdagangkan. Hijrahnya kaum muslimin ke Madinah amat menggembirakan karena memberinya kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak dari hasil penjualan air sumurnya.
        Oleh karena itu Rasulullah Saw amar berharap ada salah satu seorang sahabat yang mampu membeli sumur itu untuk meringankan beban kaum Muhajirin yang telah menderita karena harta benda mereka tinggalkan di Mekah. Mengetahui kejadian itu, Utsman Ra pergi ke rumah orang Yahudi itu untuk membeli separuh sumur tersebut. Setelah tawar menawar disepakati harga separo sumur itu 12.000 dirham dan dengan perjanjian satu hari hak orang Yahudi, dan ke esokan harinya untuk Utsman.
     
         Pada giliran hak Utsman, kaum muslimin bergegas mengambil air yang cukup untuk kebutuhan dua hari. Dengan demikian si Yahudi merasa rugi, karena tidak ada lagi yang membeli air pada gilirannya.
Orang Yahudi tersebut mengeluh kepada Utsman, dan akhirnya dia menjual separuh separuh sumur itu kepada Utsman dengan harga 8.000 dirham.
         Sumur "Raumah" mengalirkan air yang melimpah bagi kaum muslim dengan gratis.
Itulah kedermawanan Utsman Ra. Alangkah jauhnya akhlak kaum muslim dewasa ini dengan akhlak yang dimiliki para sahabat Rasulullah Saw dahulu.
         Alangkah besarnya beban yang diderita kaum muslimin dewasa ini, tapi siapakah yang berkeinginan dan dapat meringankan beban-beban itu?
Stelah peristiwa tersebut, Rasulullah Saw menikahkan putrinya, Ummu Kalthum dengan Utsman Ra. Sebelumnya Utsman beristrikan Ruqayah, putri Rasulullah Saw yang kedua, tapi ia telah wafat.
         Oleh karena itulah, Utsman Ra mendapat julukan "Dzannurain" yang memiliki dua cahaya. Yang dimaksut dua cahaya ialah mengawini dua orang putri Rasulullah Saw.


Pemberian Allah Berlipat Sepuluh
         Di masa khalifah Abubakar Assiddiq Ra kaum muslimin dilanda paceklik yang dahsyat. Mereka mendatangi khalifah Abubakar dan berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang-orang meramalkan datangnya bencana, maka apa yang harus kita lakukan?"
        Abubakar Ra menjawab, "Pergilah den sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian."
Pada sore harinya di Syam ada sebuah kafilah yang terdiri dari seribu unta yang mengangkut gandum, minyak  dan kismis. Unta itu kemudian berhenti di depan rumah Utsman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tak lama kemudian para pedagang datang menemui Utsman, si pedagang kaya, dengan maksud membeli barang-barang tersebut.

        Lalu Utsman berkata kepada merak, "Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan?"
Mereka menjawab,"Dua kali lipat."
Utsman menjawab, "Wah sayang, sudah ada penawaran lebih."
Para pedagang itu kemudian menawar empat sampai lima kali lipat, tetapi Utsman tetap menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak.
        Para pedagang menjadi penasaran, lalu berkata lagi pada Utsman, "wahai Utsman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih?"  Utsman menjawab, "Allah Swt memberi lebih kepadaku sepuluh kali lipat, apakah kalian bisa memberi lebih dari itu?"

       Mereka serempak menjawab, "Tidak."
Utsman berkata lagi, "Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sodaqoh karena Allah, untuk fakir miskin dari kaum muslimin."
      Sore itu juga Utsman Ra membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa onta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk kebutuhan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.


Orang Yang Disegani Malaikat
        Siti Aisyah Ra meriwayatkan bahwa pada suatu hari Abubakar minta ijin bertemu Rasulullah Saw. Pada waktu itu Rasulullah sedang berbaring dan gamisnya terangkat sehingga salah satu betisnya tampak.
Selesai berbincang-bincang, Abubakar pun segera pulang. Kemudian datang Umar, dan setelah berbincang-bincang beberapa waktu lamanya, Umar pun pulang.
        Kebetulan Utsman datang dan minta ijin bertemu dengannya. Mendengar Utsman yang datang, Rasulullah tiba-tiba duduk dan merapihkan pakaiannya, lalu menutupi betisnya yang terbuka tadi.
Setelah Utsman pulang, Aisyah bertanya, "Ya, Rasulullah, engkau tidak bersiap bagi kedatangan Abubakar dan Umar sebagaimana kepada Utsman."
Rasulullah Saw menjawab, "Utsman seorang pemalu. kalau dia masuk sedang aku masih berbaring, dia pasti malu untuk masuk dan cepat-cepat pulang sebelum menyelesaikan hajatnya. Hai, Aisyah, tidakkah aku patut malu kepada seorang yang dimalui (disegani)  oleh para malaikat?" (HR. Ahmad)

       Rasulullah Saw telah mengangkat malu ke permukaan sebagai teladan dan pelita dalam mendidik umat. Bukankah Rasulullah Saw bersifat pemalu bahkan lebih pemalu dari seorang gadis dalam pingitannya?
      Bukankah beliau juga bersabda:
                                   "Malu tiada menimbulkan kecuali kebaikan?"

     Para penyair juga menyanyikan sajak tentang malu sebagai berikut:
                         Seorang tetap dalam kebaikan selama bersifat pemalu - Kayu gahru tetap berharga selama ada kulitnya - Demi anda dan ayah anda, tidak ada kebaikan dalam kehidupan - Dan tidak pula di dunia bilang hilang malunya.


Mushhaf Utsmani
         Suatu amal perbuatan yang mulia, langgeng sampai hari kiamat ialah apa yang dilakukan Utsman Ra.
Ayat-ayat ayang telah dikumpulkan dan tertulis dalam lembaran-lembaran yang ditulis di masa khalifah Abubakar dan tersimpan di rumah Hafshah sesudah wafatnya Umar Ra diambil oleh Utsman Ra. Kemudian untuk kepentingan itu, Utsman membentuk sebuah panitia yang diketahui oleh Zaid bin Tsabit, dengan Abdullah bin Zubair, Said bin Aash dan Abdurrahman bin Haarits bin Hisyam sebagai angota.
        Tugas panitia ini ialah membukukan Al Qur'an, yaitu dengan cara menyalin dari lembaran-lembaran sampai menjadi buku. Dalam melaksanakan tugas ini, Utsman Ra memberi nasihat agar mengambil pedoman kepada bacaan orang-orang yang hafal Al Qur'an. Jika ada perselisihan di antara mereka dalam bacaannya maka ayat-ayat tersebut harus ditulis menurut lahjah (dialek) suku Quraisy karena Al Qur'an di turunkan menurut dialek mereka.

        Setelah tugas tersebut selesai, Utsman mengembalikan lembaran-lembaran Al Qur'an itu kepada Hafshah. kemudian lembaran-lembaran itu dimusnahkan dengan dipendam di tanah antara kuburan Rasulullah Saw dengan mimbar.
        Al Qur'an yang telah di bukukan di beri nama "Al Mushhaf".
Yang sebuah ada di tangan khalifah Utsman (di Madinah) dan empat buah lagi lagi dikirim ke Makah, Syria, Basrah dan Kufah agar di tempat-tempat tersebut di salin. Adapun Mushhaf yang berada di tangan Umar dinamakan, "Mushhaf Al Imam". Dari Mushhaf yang ditulis di jaman Utsman itulah kaum muslimin di seluruh pelosok menyalin dan memperbanyak Al Qur'an.
        Allah Swt hendak menyelamatkan Al Qur'an dari segala upaya perubahan. Dia telah memelihara kemurnian dan kelangsungannya sampai hari kiamat.
        Allah Swt berfirman:
                                "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memelihara."   (Al Hijr 9)
         Utsman Ra akan tetap selalu dikenang sebagai orang yang paling berjasa dalam bidang ini.


Kepribadian dan Perjalanan Hidupnya
         Utsman Ra adalah seorang yang bertakwa, selalu bersikap wara'. Tengah malam tak pernah ia sia-siakan. Ia manfaatkan waktu itu untuk mengaji Al Qur'an, dan  setiap tahun ia menunaikan ibadah haji. Bila sedang berzikir dari matanya mengalir air mata haru. Ia selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat. Ia juga dermawan dan penuh welas asih. Ia telah melakukan hijrah sebanyak dua kali, pertama ke Habasyah, dan yang kedua ke Madinah.
Laknat dan kutukan Allah bagi siapa saja yang membenci Utsman Ra.


Utsman dan perluasan Da'wah Islamiah
        Di masa khalifah Utsman Ra perluasan wilayah islamiah mengalami jaman keemasan. Pada tahun ke-24 Hijriah, Utsman Ra mengirim pasukan tentara yang berada di bawah komando Alwalid bin Aqobah menuju Azerbaijan dan Armenia, karena kedua negeri itu telah membatalkan perjanjian yang dibuat dengan kaum muslimin pada masa khalifah Umar Ra.
        Penduduk Azerbaijan dan Armenia yakin mereka akan dapat dibabat oleh pasukan tentara Utsman. Oleh karena itu mereka kembali sepakat akan memenuhi perjanjian yang telah dibuat oleh Huzaifah ibnul Yaman sehingga tentara kaum muslimin kembali pulang tanpa melakukan suatu pertempuran apapun.
        Pada tahun 25 Hujriah peduduk Iskandariah membatalkan perjanjian karena mereka telah dijanjikan mendapat bantuan dari kerajaan Romawi. Tapi negeri ini segera tunduk dan kembali dikuasai dengan damai oleh kaum muslimin setelah pasukannya menyerbu negeri ini.

        Pada tahun 26 Hijriah panglima tentara muslimin yang terdiri dari 3.300 orang di bawah pimpinan Utsman bin Abil Aash dapat menguasai SABUR dengan damai. Lalu pada tahun 27 Hijriah, Utsman menugaskan Abdullah bin Sa'ad bin Abbi Abi Srah (gubernur Mesir menggantikan Amru ibnul Aash) untuk menyerbu Afrika. Tentara muslimin yang terdiri dari 20.000 orang (termasuk Abdullah bin Umar dan Abdullah ibnu Azzubair) berhadapan dengan kaum Barbar yang terdiri dari 120.000 orang. Mreka di bawah pimpinan rajanya sendiri, yang bernama Jarjir.
        Abdullah ibnu Azzubair berhadapan dengan Jarjir. Dalam peperangan itu, Jarjir dipengal kepalanya oleh Azzubair dan dibawa dengan ujung tombak dalam suatu pertempuran dahsyat di suatu tempat yang bernama Sabithalah (dekat Kairawan). Stelah itu mereka menuju Andalusia (Spanyol).
       
       Pada tahun 28 Hijriah tentara muslimin yang berada di bawah pimpinan Muawiyah binAbi Sufyan dapat menguasai pulau Siprus. Lalu pada tahun 29 Hijriah tentara muslimin yang berada di bawah pimpinan Abdullah bin Amir menguasai seluruh wilayah kerajaan Persi. Pada tahun 30 Hijriah tentara muslimin yang dipimpin Said ibnul Aash menguasai Tribistan, dan pada tahun 31 Hijriah terjadi peperangan Dzarish-Shawari yang terkenal dahsyat. Lalu pada tahun 32 Hijriah, Muawiyah bin Abi Sufyan menyerbu wilayah jajahan Romawi sampai ke Konstantinopel.
         Pada tahun yang sama tentara yang dipimpin Ibnu Aamir menguasai Marwarrauz, Thaliqon, Fariab, Juazjan dan Thakharstan.
Para ahli sejarah menganggap masa Utsman Ra sebagai jaman kemenangan kaum muslimin da jaman penaklukkan kekuatan-kekuatan Romawi, Persi dan Turki.



Fitnah Besar dan Terbunuhnya Utsman
         Pada akhir tahun 34 Hijriah daulah islam mulai dilanda fitnah. Yang menjadi sasarannya adalah Utsman Ra sampai mengakibatkan beliau terbunuh pada tahun berikutnya.
Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umroh pada bulan Rajab.
        Ali bin Abi Thalib Ra mati-matian membela Utsman dan menyangkal tuduhan mereka. Ali juga menanyakan keluhan dan tuduhan mereka, tapi mereka menjawab, "Utsman membakar mushhaf-mushhaf, shalat penuh (tidak qashar) di Mekah, mengkhususkan sumber air untuk kepentingan dirinya sediri dan mengangkat penjabat dari kalangan muda. Ia juga mengutamakan segala fasilitas untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi orang lain."
        Pada hari Jumat Utsman berkhotbah dan mengangkat tangannya seraya berkata, "Ya, Allah aku beristighfar dan bertobat Kepada-Mu. Aku bertobat atas perbuatanku."
Sayyidina Ali Ra menjawab, "Mushhaf-mushhaf yang dibakar ialah yang mengandung perselisihan dan yang ada sekarang ini adalah yang disepakati bersama kesahan-nya. Adapun shalat penuh (qashar) yang dilakukannya di Mekah adalah karena dia berkeluarga di Mekah dan dia berniat tinggal di sana. Oleh karena itulah shalatnya tidak di qashar. Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternak sodaqoh sampai mereka besar, bukan untuk ternak unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat penjabat dari yang berusia muda, hal ini dilakukan karena orang-orang tersebut memang sudah sepantasnya jika dilihat dari kemampuan dan sifat yang dimilikinya. Rasulullah Saw pernah mengangkat Attab bin Usaid, yang berusia dua puluh tahun sebagai wali Mekah. Rasulullah Saw pun mengangkat Usamah bin Zaid bin Harithah yang masih berusia dua puluh tahun menjadi panglima perang, dan banyak juga orang yang mengkritik kepemimpinannya. Adapun dia mengutamakan kaumnya, bani Umayyah, karena Rasulullah Saw sendiri mendahulukan Quraisy daripada bani lainnya. Demi Allah kalau kunci surga di tangan ku, aku akan memasukkan bani Umayyah ke surga.'

         Kemudian Ali Ra menanyakan kepada Utsman agar ia berbicara di hadapan rakyat untuk meminta maaf atas perbuatannya dalam mengutamakan kedudukan bagi keluarganya dengan mengemukakan alasan-alasan.
         Utsman menangis tersedu-sedu sehingga seluruh yang hadirpun ikut menangis. Sesudah itu rakyat sangat bersimpati kepada imam mereka, Utsman Ra. Utsman berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahannya yang lalu. Setelah itu dia turun dari mimbar dan memimpin shalat, lalu dia pulang.
         Rakyat pulang dengan rasa puas, tapi peniup-peniup api fitnah terus melangsungkan rencana jahatnya. Di antara mereka ada yang menyebarkan tulisan dengan tanda tangan palsu dari para sahabat terkemuka yang menjelek-jelekkan Utsman. Mereka juga menuntut Utsman agar di bunuh.
         Utsman masih tetap mengimami sahalat, dan ketika sedang berkotbah jumat dia di paksa turun dari atas mimbar. Lalu ia dianiaya sampai beberapa tulangnya patah dan kepalanya retak, maka ia segera diangkut ke rumahnya.
         Keadaan semakin parah dan Utsman di kepung di rumahnya lebih dari sebulan. Dia hanya bisa terdiam diri di rumah dan tidak pergi ke masjid.
Pada suatu hari para pembangkang dan pendurhaka menyerbu rumahnya lalu membunuhnya. Mereka tidak menaruh sedikitpun belas kasihan kepada Utsman yang telah berjuang dalam islam dan menginfakkan hartanya untuk peperangan, dan masih banyak lagi amalnya.

         Ibnu Abidunia menyampaikan kisah dari Abdullah bin salaam, "Aku pergi ke rumah Utsman ketika dia sedang di kepung di rumahnya dan aku bertemu dengan dia. Lalu dia berkata, "Selamat datang saudaraku, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw di suatu lorong yang sempit ini dan beliau berkata:
"Ya Utsman mereka mengepung kamu?"
Aku menjawab, "Ya"
Nabi bertanya lagi, "Dan mereka membuat kamu haus?"
Aku menjawab,"Ya"
Kemudian Nabi Saw memberiku ember berisi air dan aku minum sampai puas dan aku rasakan dinginnya air pada dada dan pundakku, lalu beliau berkata, "Kalau kamu menghendaki, kamu dimenangkan dan kalau kamu menghendaki berbuka puasa di tempat kami."
        Ketika itu Utsman Ra dalam keadaan berpuasa. Utsman Ra berkata, "aku memilih berbuka puasa di tempat Nabi Saw."
Tepat pada sore hari itu Utsman di bunuh. Ia dimakamkan di semak-semak bukit sebelah timur perkuburan Albaqii.
        Ia dikubur hari Jumat 35 Hijriah, tanggal 17 Dzulhijjah dalam usia 80 atau 82 tahun.
Utsman Ra memangku jabatan khalifah selama 11 tahun 11 bulan dan 14 hari. Ia meniggalkan anak-anaknya yang berjumlah 16 orang, 9 laki-laki dan 7 perempuan.
Rahmat Allah bagimu, hai Utsman dan laknat Allah bagi para pembunuhnya dan bagi penyulut fitnah.






Selesai



Minggu, 02 September 2012

Umar Ibnul Khattab (Al Faruq) lll




Keluhan Hati, Adab dan Sifat Malunya
           Umar Ra sangat mendambakan ia dikubur di samping kedua rekannya yaitu Rasulullah Saw dan Abubakar Ra.
Setelah peristiwa penikaman terhadap dirinya, ia merasakan ajalnya sudah dekat. Oleh karena itu ia memanggil putranya, Abdullah, dan berkata, "Pergilah kepada Aisyah Ummul mukminin dan katakan padanya Umar mengirim salam untuknya dan jangan sebut aku dengan Amirul mukminin dihadapannya karena sesungguhnya bagi orang-orang mukmin aku bukan amir dan katakan pila padanya bahwa aku minta diijinkan dikubur di samping kedua orang kawannya.
            Setelah mendengar titah ayahnya, Abdullah pergi ke rumah Aisyah Ra, lalu pulang kembali ke rumahnya memberitahukan bahwa Aisyah mengijinkannya.
            Umar berkata lagi kepada Abdullah, "Apabila aku wafat, usunglah aku di atas balai-balai dan bila sampai di rumah Aisyah jangan masuk sebelum mendapat ijinnya."
Bila pada suatu hari anda di beri rezeki dan kesempatan untuk berziarah ke kuburan Rasulullah Saw, janganlah melupakan kawan beliau yang gagah berani ini, yaitu Umar Ra. Hadapkanlah kepalamu ke kuburannya dan ucapkan:
                       "Salam bagimu wahai yang denganmu Allah memuliakan islam. Salam bagimu, wahai yang membela haq dengan batil dalam islam. Salam bagimu wahai yang selalu berkata benar. Salam bagimu wahai yang mengasuh anak-anak yatim dan suka menghubungkan silahturahmi. Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu dan alangkah nikmat dan baiknya tempat kesudahan itu.


Al-Faruq Berjaga Malam Untuk Mengayomi
Anak-anak
          Salah satu kisah yang membuktikan keagungan Umar Ra adalah tatkala pada suatu malam ia mendengar tangis anak-anak di sebuah rumah. Terdengar pula suara ibu mereka menenangkan anak-anaknya.
          Umar kemudian mendatangi rumah tersebut dan meminta ijin kepada ibu itu agar diperbolehkan masuk. Ibu itu menjelaskan padanya bahwa ia sedang menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Untuk menghibur dan menenangkan anak-anaknya ia sengaja merebus batu.
          Ibu yang malang itu tidak tahu bahwa orang yang datang malam-malam ke rumahnya adalah Amirul mukminin.Umar bertanya kepadanya, "Wahai ibu, mengapa kamu tidak datang kepada Amirul Mukminin untuk meminta pangan?"
          Si ibu menjawab, "Selaku Amirul mukminin seharusnya dia tahu nasib rakyatnya."
Mendengar perkataan itu, Umar segera pamit dengan wajah duka. Sepanjang jalan ia menangis tersedu-sedu. Bersama pengawalnya ia pulang kerumah nya.
          Sesampai di rumahnya, Umar mengumpulkan gandum ke dalam karung, kemudian dipikulnya karung gandum itu seorang diri menuju rumah ibu itu.
          Sesampainya di sana, ia rebus sendiri gandum tersebut dan setelah masak, ia berikan kepada anak-anak yang tengah kelaparan itu dan sesudahnya ia pun bergurau dengan mereka sampai anak-anak itu tertidur.


Pujian Nabi Saw  Terhadap Umar
           Pujian dan cinta Nabi Saw terhadap Umar Ra begitu besarnya, sehingga beliau bersabda: "Yang paling kokoh dalam agama Allah dari Umatku ialah Umar."
           Sahabat Abbas Ra berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
                      "Sesungguhnya aku memiliki dua penasehat (menteri) dari ahli langit dan dua orang penasehat (menteri) dari ahli bumi. Yang ahli langit ialah malaikat Jibril dan Mikail, sedangkan yang dari ahli bumi adalah Abubakar dan Umar. Merekalah pendengaran dan pengliatanku."               (HR. Alhaakim, Ibnu Asaakir dan Abu Na'im dalam Fadhailus Sohabah)
         
Dari Aisyah Ra Nabi Saw pernah bersabda:
                       "Sesungguhnya setan-setan menyingkir (menghindar) apabila berjumpa dengan Umar."    (HR. Ibnu Asaakir)

Rasulullah Saw pun bersabda:
                       "Paling kasih sayang dari umatku adalah Abubakar dan paling keras dalam agama Allah adalah Umar."            (HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhaakim, Attirmidzi)


Cinta Umar Kepada Rasulullah dan
Meneladaninya
              Pada suatu hari Hafsah Ummul mikminin berkata kepada Umar, "Apabila datang utusan-utusan dari negeri-negeri lain hendaknya anda mengenakan pakaian yang lebih (indah) elok dan suruhlah dibuatkan makanan yang mewah untuk hidangan kepada anda dan hadirin."
              Mendengar perkataan anaknya, Umar Ra menjawab, "Hai Hafsah, tidakkah kamu tahu bahwa yang paling mengetahui tentang seseorang adalah istrinya?"
              Hafsah menjawab, Ya, benar."
              Umar Ra berkata lagi, "Tahukah kamu sesudah Rasulullah Saw menjadi nabi beberapa tahun lamanya, beliau dan keluarganya tidak pernah kenyang makan kurma, kecuali sesudah Allah menguasakan khaibar baginya?"

                           "Tahukah kamu ketika pada suatu hari Rasulullah disodori hidangan makanan yang mewah lalu beliau merasa tidak senang sehingga air mukanya berubah, lalu beliau menyingkirkan hidangan tersebut?"
                           "Tahukah kamu Rasulullah bisa tidur beralaskan kain berlipat dua. Tetapi pada suatu malam alas kain itu dilipat empat. Ketika bangun beliau bersabda,  "Kalian mencegahku bangun (shalat) malam dengan alas kain yang tebal ini. Lipat saja seperti biasanya."
                           "Beliau tertidur pulas karena beralaskan kain tebal, sehingga tidak terbangun utuk shalat malam. Tahukah kamu ketika Bilal azan untuk shalat, Rasulullah Saw tidak segera keluar karena menunggu pakaiannya yang dicuci belum kering?"
                          "Hai ,Hafsah, dua kawanku terdahulu menempuh jalan itu dan bila aku menempuh jalan yang berbeda tentu aku akan terbawa kepada jalan yang bukan jalan mereka."
                           "Aku akan bersabar meniru kehidupan mereka yang keras. Semoga aku dapat menikmati kehidupan mereka yang penuh kebahagiaan."

Itulah kecintaan Umar kepada kedua sahabatnya, Rasulullah Saw dan Abubakar. Tidak hanya itu saja, karena keinginannya yang kuat untuk berjumpa kedua sahabatnya yang mulia di surga, dengan segala daya ia teladani peri kehidupan mereka.



Doa - doa Umar Ra
          Umar Ra selalu mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah malam dan penghujung siang hari, ia selalu berzikir.
Setelah diangkat menjadi khalifah, ia selalu berkata:
                       "Ya, Allah, sebagaimana e=Engkau tahu, aku ini berwatak keras. Oleh karena itu lunakkanlah aku. Aku ini lemah, ya Allah,maka kuatkanlah aku. Aku ini kikir, maka jidikanlah aku hambaMu yang pengasih, pemurah dan dermawan."

        Ketika terjadi kelaparan pada tahun kemarau panjang (tahun Ramadah), dia berdoa:
                        "Ya, Allah, janganlah Engaku jadikan kebinasaan umat Muhammad di tanganku."

        Ketika dia melepas pasukan untuk penyebaran agama, dia berdoa:
                        "Ya, Allah, anugerahkan bagiku rezeki gugur di jalanmu atau wafat di kota nabiMu."

Setelah usianya makin tua ia berdoa:
                         "Ya, Allah, usiaku makin tua, kekuatanku makin surut (lemah), rakyatku makin menyebar luas, maka wafatkanlah aku tanpa menyia-nyiakan dan melalaikan tanggung jawabku."


Negeri-negeri yang Dikuasainya
           1. Di negeri Syam antara lain, Alyarmuk, Basra, Dimaskus, Yordania, Bisan, Thobariyah, Aljabiyah, Palestina, Ramlah, Asqolan,  Gaza, tepi-tepi laut, Baitil Makdis.
           2. Di Afrika yaitu Mesir, Iskandariyah, Hirah, Tripoli Barat (Libia), Barqoh dan lain-lain.
       Di Irak dan Persia, yaitu negeri Alqadisiyah, Hirah, seluruh Persia, seluruh Armenia, Almausil, delta sungai Ifrat, dan Dajlah, Khurasan, Albasrah, Nisabur, Azerbijan, Nahawind, Ashbahan, Hammadzan dan lain-lain.
       Rahmat Allah baginya, Umar adalah orang yang rendah hati karena Allah. Makanan dan pakaiannya sangat sederhana. Ia tak segan-segan membawa tempat air di pundaknya. Ia juga menuggang keledai tanpa pelana dan menunggang unta dengan berpelana daun.
       Tertawanya sedikit sekali. Ia jarang bergurau, selalu tampak serius dan berwibawa.

Dia memakai cincin bertatah tulisan,
                           "Cukup kematian sebagai pelajaran, hai Umar."


Kilauan Sejarahnya Yang Harum
           Umar Ra pernah berkata, "Tidak halal bagiku harta Allah, kecuali dua stel pakaian. Yang satu untuk musim dingin dan yang satu stel untuk musim panas. Pangan untuk keluargaku adalah seperti untuk orang dari Quraisy yang bukan ukuran terkaya lagi pula aku termasuk salah seorang muslimin."
           Ketika aku melantik seorang penjabat, Umar menulis surat perjanjian dengan disaksikan oleh beberapa orang kaum Muhajirin. Isi perjanjian tersebut:
                            "Tidak boleh menunggang kuda yang biasa untuk angkut barang, tidak boleh memilih-milih makanan, tidak boleh berpakaian mewah, tidak boleh menutup pintu rumah bagi orang-orang yang berkepentingan." Kalau melanggar salah satu isi perjanjian ini maka akan dikenakan hukuman.

       Muawiyah bin Abi Sufyan Ra menyifatkan Umar dan Abubakar dengan ucapnya:
                           "Adapun Abubakar tidak menghendaki dunia dan dunia tidak menghendakinya. Adapun Umar dikehendaki oleh dunia tapi dia tidak menghendakinya. Adapun kita bergelimang dalam lumpur dunia dari mulai punggung sampai perut.

       Ketika Umar pergi menunaikan ibadah haji bersama anaknya, ia telah mengeluarkan enam belas dinar. Lalu ia berkata kepada anaknya, "Kita telah berlaku boros."
       Pada suatu malam ketika Umar pergi ke Masjid, ia mendengar tangisan bayi yang menghiba itu, ia hampiri rumah tersebut. Setelah ibu mengijinkan masuk, Umar Ra berkata, "Bertakwalah kepada Allah, berlaku baiklah kepada bayimu.
       Ketika Umar pulang, masih juga terdengar suara tangis bayi tadi, lalu dia mengetuk pintu rumah itu sekali   lagi. Umar bertanya,  "Mengapa semalaman bayimu menangis?" Si ibu menjawab, "Wahai hamba Allah aku mencoba memberinya makan tetapi dia menolak."
       Umar bertanya, "Mengapa? "Si ibu menjawab, "Bantuan pangan dari Umar hanya diperuntukkan untuk bayi yang sudah disapih."
Umar bertanya lagi, "Berapa usia bayimu ini?"
Si ibu menjawab, "Sekian bulan."
Umar berkata lagi, "Kalau begitu jangan cepat-cepat kau sapih anakmu."
        Sepanjang jalan Umar menangis dengan peristiwa tersebut dan ia berkata kepada dirinya, "Celakalah kamu Umar, berapa anak kaum muslimin yang telah kamu bunuh."
        Setelah peristiwa itu, Umar menetapkan suatu keputusan yang di umumkan ke seluruh pelosok daerah dan wilayah. Bunyi surat keputusan itu:
                 "Jangan cepat-cepat menyapih bayi. Setiap bayi yang lahir mendapat tunjang dari negara."


Wafatnya Umar Ra
         Sepulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 23 Hijriah, dia berdoa:
                  "Ya, Allah, aku mohon kepada Engkau agar aku dapat mati syahid di jalanMu dan wafat di bumi rasulMu."
         Ternyata Allah mengabulkan doanya. Kedua keinginannya itu terkabul.
Ketika Umar Ra akan shalat subuh di Mihrab pada hari Rabu, tanggal 26 Zulhijjah, tahun 23 Hijriah, dia di tikan oleh seseorang Mujusi bernama Abu Lu'luah atau Fairus yang berasal dari Persi (tapi bertempat tinggal di wilayah Romawi)
         Fairus adalh pelayan Almughirah bin Syu'bah. Umar di tikam tiga atau enam enam tusukan, satu di antaranya di bawah pusat dengan badik berujung dua.
         Setelah menikam Umar Ra, Fairus kemudian menikam setiap orang yang dijumpainya, sehingga ada enam orang yang tewas dan tujuh luka-luka.
         Tapi Alhamdulillah, Fairus segera di sekap oleh Abdullah bin Auf dengan jubahnya sampai Fairus tidak berdaya. Lalu ia bunuh diri dengan menikam tubuhnya sendiri. Laknat Allah untuk Abu Lu'luah Almajusi atau Fairus!

         Dengan darah yang mengalir dari sela-sela lukanya, Umar Ra di usung kerumahnya sebelum matahari terbit. Terkadang ia pingsan dan terkadang pula ia sadarkan diri.
Ketika di ingatkan tentang shalatnya, Umar berkata: Oh Ya tidak ada keislaman bagi siapa yang meninggalkanya. "Lalu saat itu juga ia shalat.
         Setelah shalat, dia bertanya kepada sahabatnya, "Siapa yang tadi telah menikamku. Maka di jawab, "Abu Lu'luah Almajusi, pelayan Almughirah bin Syu'bah."
Mendengar jawaban itu Umar justru berkata, "Alhamdulullah, yang menjadikan wafatku oleh orang yang mengaku beriman tapi tidak pernah bersujud kepada Allah.
         Selama tiga hari setelah penikaman itu, Umar Ra masih bertahan hidup. Tapi stelah it di saat berusia 63 tahun (sama dengan umur Rasulullah Saw dan Abubakar) ia wafat.
Umar memangku jabatan khalifah selama 10 tahun 6 bulan 5 hari. Anaknya berjumlah 13 orang, 9 laki-laki dan 4 perempuan.


Kesaksian Seorang Wanita
         Setelah Umar wafat, seorang wanita bernama Ibnatu Abi Hatmah menangis dan berkata, "Wahai Umar, engkau selalu meluruskan segala sesuatu yang bengkok.
Engkau selalu memadamkan segala api fitnah dan menghidupkan sunah-sunah. Engkau meninggalkan dunia dengan bersih dan engkau bebas dari segala aib dan cemar.
         Mendengar ucapan wanita itu, Ali bin Abi Thalip Ra. Memberi komentar, "Benar apa yang di wanita itu. Umar pergi meninggalkan alam fana ini dengan membawa segala kebaikan dan meninggalkan segala keburukan. Semua orang sependapat dengan wanita itu."


Wasiat Umar Menjelang Wafat
         Sebelum belum wafat, Umar Ra berwasiat agar usarusan khalifah dan pimpinan kepemerintahan dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat keridhoan Nabi Saw ketika Nabi Saw akan wafat. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalip, Thalhah bin Uabidillah, Azzubair ibnul Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
        Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, "Aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup dan sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (yang keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu Saw.
        Karena ketinggian wara'nya (sikap hati-hati) maka Umar Ra sengaja tidak menunjuk anak paman dan adik iparnya sendiri, yaitu Said bin Zaid bin Amru bin Nufail. Ia khawatir orang lain menuduhnya "karena dia masih keluarga Umar", meskipun Said bin Zaid adalah salah seorang dari kesepuluh orang yang memperoleh kabar gembira masuk surga.
       Umar juga berpesan kepada sahabatnya yang enam orang itu, agar putranya, Abdullah, menghindari musyawarah tetapi ia tidak memiliki kuasa apapun. Kehadiran Abdullah hanya untuk mengutarakan pendapat saja. Ia tidak boleh diserahi kekuasaan apapun.
       Kemudian ia juga berpesan agar selama sidang musyawarah yang menjadi imam shalat adalah Suhaib bin Sanan Arrumi sampai musyawarah itu usai.
       Umar Ra hanya mengangkat ke enam orang itu tidak menyertai Ubaidah ibnul Jarrah (orang kesepuluh yang diberitakan masuk surga) karena ia telah wafat. Ia juga tidak mengangkat Said bin Zaid (orang yang kesembilan diberitakan masuk surga) karena ia adalah iparnya sendiri. Selain itu Said tidak berminat memangku jabatan apapun. Dia hanya ingin menjadi tentara yang terjun ke kancah perang perluasan dan dakwah. Ia bercita-cita gugur sebagai syahid di medan tempur dan Umar Ra mengetahui itu.


Jumat, 31 Agustus 2012

Umar Ibnul Khattab (Al Faruq) II




Umar Sebagai Khalifah
          Mungkin anda mengira kekerasan dan keganasan setelah menyertai Umar sampai masa khalifahnya. Tapi sesungguhnya tidak demikian. Stelah menjadi khalifah, Umar Ra berubah menjadi manusia lain. Ia mengumumkan tentang dirinya dengan ucapanya:
                    "Jangan kamu mengira sifat kerasku tetap bercakol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah Saw, aku selalu menjadi penjaga keamanan dan ketentraman negeri (menteri dalam negeri). Di masa Abubakar pun tetap demikian. Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah dihadapan yang haq."


Keutamaan dan Tindakannya yang tepat
         Pada suatu hari datang seorang utusan kaisar menemuinya dengan diantar oleh beberapa orang pengawal. Pada waktu itu Amirul Mukminin sedang tidur di kebun dengan berbantalkan batu bata. Melihat hal tersebut utusan kaisar berkata kepadanya, Wahai Umar, sungguh anda telah berlaku adil. Oleh karena itu anda dapat tidur dengan enak dan aman."
        Setelah negeri Syam dapat ditaklukkan dan direbut dari penjajahan Romawi, Umar pergi mengunjungi Palestina. Dalam kunjungannya itu ia diminta memakai pakaian kebesaran dalam suatu upacara yang merih. Tapi karena keteguhan dan kesadaran pada keimanannya, ia menolak semua itu dan tetap memakai pakaian sehari-hari.
     
        Begitulah, Rasulullah Saw mampu membangun suatu umat dan telah mendidik mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang shaleh, berkepribadian mulia dan mampu mengemban tugas di bidangnya masing-masing, seperti Umar Ra dan Abubakar Ra.
       Umar Ra adalah seorang pemimpin umat dan dunia yang telah berhasil dibina, ditempa dan dipersiapkan Rasulullah Saw untuk memangku jabatan, tanggung jawab, dan mengurus segala persoalan dan peristiwa besar. Namun Umar Ra terpadu dengan daulah islam, emperium Persia dan Romawi, dan semua kerajaan yang tercatat dalam sejarah.
        Tanpa islam dan tanpa kenabian Muhammad Saw orang tidak akan mendengar dan tidak akan mengetahui siapa Umar.
         Abubakar Assiddiq Ra memiliki sifat yang lemah lembut dan tenang, sedangkan Umar bersifat keras, tegas, dan tegar. Itulah dua sifat yang dipadukan oleh Nabi Saw.

        Ketika menghadapi perang Badar, Umar Ra bersifat keras agar semua tawanan dibunuh, sedangkan Abubakar Ra mengusulkan agar mereka dibebaskan. Tapi sebaliknya, ketika menghadapi kaum pembangkang (murtad) Umar Ra bersikap lunak, sedangkan Abubakar Ra bersikeras menindak mereka dengan perang. Dalam urusan ini Umar Ra mempunyai alasan, yaitu:
                     "Rasulullah Saw memerangi orang-orang Arab dengan wahyu Allah dan para malaikat membantu dengan pertolonganya, tapi kini wahyu Allah telah putus. Oleh karena itu tetaplah di rumah dan masjidmu hai Abubakar. Kita tidak usah memerangi mereka."

         Tapi Abubakar menjawab, "Bila musuh kita banyak sedangkan jumlah kita sedikit maka setan akan menyuruh (mengendali) kita seperti itu. Demi Allah, aku harus meninggikan agama ini atas semua agama walaupun orang-orang musrikin tidak menyukainya."
Namun Rasulullah Saw pernah bersabda:
                    "Allah Azza Wajalla melunakkan hati pemimpin-pemimpin sehingga lebih lunak dari susu, dan mengeraskan hati mereka sehingga lebih keras dari batu. Kamu hai, Abubakar seperti (nabi) Ibrahim ketika berkata:
                   "... Maka barang siapa yang mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa mendurhakai aku maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."     (Ibrahim 36)

Kata Rasulullah kembali, "Dan engkau hai Abubakar, seperti isa ketika berkata:
                  "Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."     (Al Maidah 118)

"Dan, Umar seperti Nuh yang berkata:
                        "Ya, Robbku, janganlah Engkau berikan seseorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi."
"Dan engkau, seperti Musa yang berkata:
                        " ...Ya Robb kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."  (Yunus 88)
         Itulah pendidikan dan bimbingan kenabian (madarasah nubuwah).



Sifat Mendalam Sebagai Ringkasan
Kehidupannya
          Sahabat Abdullah ibnu Mas'ud berkata:
                        "Keislaman Umar adalah perintis jalan. Hijrahnya adalah kemenangan, sedangkan kepemimpinannya (khalifahnya) adalah rahmat (ilahiyah)

         Keislaman Umar adalah perintis, pembuka jalan, dan pendorong kaum muslimin dalam menyatakan keislaman mereka secara terbuka. Dengan adanya Umar, mereka berani melakukan shalat secara terang-terangan di hadapan masyarakat Quraisy tanpa takut diganggu.
         Hijarahnya Umar merupakan kemenangan, sebab dialah yang paling bersikap tegas terhadap kaum Yahudi dan kaum munafik di Madinah. Kepemimpinannya adalah rahmat, karena pada waktu itu kaum muslim benar-benar menghayati kehidupannya. Dewasa ini penghayatan terhadap kehidupan yang hakiki amat didambakan oleh seluruh umat manusia di dunia baik yang berada di Timur maupun Barat. Oleh karena itu tidak heranlah bila Rasulullah Saw bersabda:  "Sesungguhnya haq adalah di lidah dan dalam hati Umar.


Menerima Kunci Kota Baitul  Maqdis
          Setelah Palestina dikuasai muslimin, Umar Ra pergi ke Baitul Maqdis untuk menerima kunci kota dari penguasa lama. Pada waktu itu Umar hanya mengenakan pakaian biasa dan berjalan kaki sambil menuntun sendiri kudanya.
          Para penduduk Baitul Maqdis termasuk para pastur, rahib dan pendeta berdiri berderet di sepanjang jalan untuk mnyaksikan Khalifah Amirul Mukminin.
          Tapi alangkah terkejutnya dan herannya mereka menyaksikan Umar Ra dalam keadaan amat bersahaja. Mereka sama sekali tidak menyangka orang yang sedang mereka lihat ini adalah Amirul Mukminin. Biasanya para pembesar yang selama ini mereka saksikan berpenampilan megah dan mewah.



Keadilan Umar Ra
          Pada suatu hari putra Amru Aash (gubernur Mesir) berpacu kuda dengan orang-orang Mesir. Tapi kemudian mereka berselisih dalam menentukan pemenangnya.
          Putra gubernur Amru marah dan memukul orang yang Mesir tersebut seraya berkata, "Aku ini putra dua orang yang mulia."
          Perbuatan putra Amru itu dilaporkan kepada Umar ibnul Khattab. Umar lalu memanggil mereka dengan disertai gubernur Amru sediri. Setelah melakukan pengecekan, maka diputuskan orang Mesir tersebut harus membalas pukulan anak gubernur dengan pukulan lagi. Orang Mesir itu juga di suruh memukul gubernurnya, dengan demikian putranya tidak akan berani lagi memukul orang secara sembarangan. Hanya karena kekuasaan ayahnyalah ia berani melakukan hal tersebut.
          Umar Ra lalu berkata kepada gubernur Amrul ibnul Aash dengan nada keras,
                            "Sejak kapan kamu memperbudak manusia pada hal mereka dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan bebas merdeka?"

          Dengan berbagai alasan yang dapat diterima dan dengan disaksikan banyak orang gubernur Amru akhirnya dapat terbebas dari hukuman.
          Sebelum masuk islam, Jabalah bin Alaiham dan seluruh kaumnya adalah penguasa di daerahnya. Sebelumnya dia adalah seorang Nasrani.
          Pada saat ibadah haji, jubah yang dipakai Jabalah terinjak oleh seorang awam. Jabalah lalu menampar muka orang awam itu itu di hadapan para hujjaj.
          Orang awam tersebut kemudian melapor kepada Umar Ra. Umar memutuskan agar orang awam itu membalas tamparan tersebut di hadapan umum, karena Umar tidak mau membeda-bedakan antara rakyat awam dengan penguasa.



Ujian Kahalifah Umar Ra  : Tahun Kemarau
(Malapetaka)
           Pada masa khalifah Umar terjadi kemarau panjang yang dahsyat yang dimulai pada akhir musim haji tahun 18 Hijriah sampai awal musim haji tahun 19 Hijriah.
           Bumi menjadi kering dan hitam kelabu. Selama hampir setahun, tidak setetes pun air hujan turun. Untuk mengatasi kemarau panjang tersebut, Umar memulai dari dirinya sendiri. Ia membatasi diri dan keluarganya makan makanan lezat, seperti samin, daging dan buah-buahan. Ia menyuruh penata makanan agar menghidangkan roti dan minyak saja.
          Kelaparan makin meluas. Banyak penduduk terancam mati kelaparan. Musim dingin tiba dan angin kencang pun membahana membawa maut. Peristiwa ini melanda seluruh jaziah Arabia.
          Penduduk pedalaman yang lapar datang memasuki kota Madinah. Mereka di terima Umar dengan memberikan bantuan pangan sepenuhnya. Bahkan Umar sendirilah yang langsung menanganinya. Tapi semakin hari, persediaan makanan semakin menipis.
          Umar Ra kemudian menulis surat ke beberapa gubernur. Suratnya kepada gubernur Mesir Amru ibnul Aash berbunyi:
                       "Dari: hamba Allah Amirul mukminin
                        Kepada Al 'aashi ibnul Aash Di tempat salam untukmu.
                        Apakah kamu akan membiarkan aku dan rakyat sekelilingku binasa, sedang kamu dan rakyat sekeliling mu hidup berkecukupan? Maka dari itu tolonglah aku, dan tolonglah.

Amru ibnul Aash menjawab surat Umar. inilah isinya:
                       "Amma ba'du
Bantuan dan pertolongan akan segera tiba. Aku akan mengirimkan kafilah-kafilah yang berawal di tempat anda dan berakhir di tempat kami. Wassalam.

Maka mengalirlah bantuan pangan dari Syam dan Iraq. Di bentuklah panitia penyalur makanan . Kepada seluruh rakyat diserukan:
                        "Disediakan makanan secukupnya dan siapa saja dipersilahkan makan. Barang siapa hendak mengambil untuk kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya, maka dipersilahkan ia datang mengambilnya."
Sebenarnya musibah itu gawat, tetapi Umar Ra mampu mengatasinya dengan pikiran yang terang dan hati besar.
           Rahmat Allah bagimu , hai Umar, sebagaimana engkau rahim dan berkasih sayang kepada manusia.


Yang Pertama Dalam banyak Hal
           Umar adalah orang pertama kali:   (1) mendirikan baitul mal;  (2) menulis tarikh dari hijrah atau tahun Hijriah;  (3) menyunahkan shalat terawih berjamaah di masjid;   (4) melakukan penyelidikan dan pengawasan di malam hari;   (5) menghukum perbuatan mencaci maki;   (6) menghukum dera delapan puluh kali peminum arak;   (7) yang mengharamkan kawin mut'ah;  (8) melarang menjual budak wanita yang mempunyai anak;   (9) mengumpulkan orang-orang untuk shalat jenazah;  (10) memperluas kekuasaan ke wilayah-wilayah lain, baik Persia, Irak, Syam, maupun Mesir;  (11) mengirim bahan makan melalui laut merah dari Mesir ke Madinah;  (12) menetapkan faraidh (pembagian waris);  (13) menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda;  (14) menetapkan hakim-hakim di daerah-daerah;    (16) dijuluki amirul mukminin;  (17) menyediakan gudang yang berisi gandum bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan;  (18) memperluas masjid Nabawi dan tanahnya di taburi kerikil;  (19) menciptakan uang logam;  (20)  menggunakan pos untuk pengiriman surat-menyurat;  (22) mengangkat penjabat yang mengawasi harta-harta dan mengatur tata tertib kesopanan dan susila;  (23) membuat parit-parit dan jembatan-jembatan;  (24) mengirimkan pasukan penjaga di tempat-tempat strategis. Mereka ini diberi nama Alajnaad;  (25)  mengangkat penjabat yang ditugasi khusus memantau berita-berita tentang para petugas di daerah dan menerima keluhan-keluhan mereka yang dikirim kepada khalifah. Petugas tersebut bernama Muhammad bin Maslamah.



Surat Umar kepada Abu Musa Al-Asy'ari 
Tentang Peradilan
            Semua orang membicarakan keadilan dan keteguhan hati Umar tentang perjuangannya yang semata-mata karena Allah. Umar berhasil meletakkan dasar dan pedoman yang berisi prinsip-prinsip islam. Sampai sekarang pedoman dasar tersebut menjadi pelita para hakim dalam melaksanakan hukum.
             Inilah surat Umar yang ditujukan ke Abu Musa Alasy'ari
                           Amma ba'du
                          Pengadilan adalah suatu kewajiban yang kokoh dan nyata, dan suatu sunnah yang berkisanambungan. Pahamilah apa yang disampaikan kepadamu, karena tidak ada gunanya ucapan yang haq bila tidak dilaksanakan.
                        Dalam majelis perlakukanlah semua orang dengan sama baiknya agar orang yang berkedudukan tidak mengharapkan kezalimanmu, dan orang yang lemah tidak takut kepada kezalimanmu.
                        Bukti-bukti harus dikemukakan oleh orang yang mungkir. perdamaian antar sesama muslim diperkenankan, tapi berdamai untuk untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal jangan di lakukan.
                       Keputusan perkara yang kemarin boleh dibatalkan bila kamu sudah mempertimbangkan kembali, dan telah memperoleh petunjuk yang benar. Sesungguhnya kebenaran adalah suatu hal yang permanen dan mengulang untuk memperoleh yang haq lebih baik dari pada tetap dan terus-menerus dalam kebatilan.
                      Ingat dan camkanlah! Gunakan pertimbangan akal sehat dan renungan hati nuranimu terhadap apa yang belum sampai kepadamu dari ajaran Al Qur'an dan sunnah Nabi Saw.
                      Pelajarilah contoh-contoh dan perumpamaan yang mirip dan jadikanlah itu sebagai bahan pertimbangan dan ukuran. Lalu pilihlah apa yang lebih disenangi oleh Allah dan yang menurut pertimbangan mu lebih mendekati yang haq.
                     Berikan haq yang mengandung ketidakpastian kepada orang yang menuntut atau tangguhkanlah sampai dia dapat membuktikannya dengan jelas. Kalau dia mampu membuktikannya maka kembalikanlah haq nya kepadanya. Kalau tidak, maka arahkan tuntutan balik terhadapnya, karena hal itu akan menghilangkan keraguan dan jelas daripada kekaburan dan juga untuk mengokohkan alasan.
                     Kaum muslimin harus jadi saksi yang adil bagi yang lain, kecuali terhadap orang yang pernah didera karena melakukan pelanggaran atau diketahui pernah menjadi saksi palsu, atau diketahui tidak setia dan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala rahasia.
Dia membiarkan kamu berkiprah dalam hal-hal yang syubhat (tidak pasti hukumnya)
                    Berhati-hatilah terhadap kegelisahan, keluhan, sifat mengganggu (merugikan) orang lain, dan mengingkari hak lawan yang benar.
                   Barang siapa yang mengikhlaskan niatnya antara dirinya dengan Allah, Tabaroka wata'ala, walau itu merugikan dirimu sendiri maka Allah akan menjadi pelindungmu antara kamu dengan manusia.
                   Barang siapa yang berpura-pura memperindah peri laku di hadapan manusia, padahal Allah mengetahui apa yang ada di balik hatinya, maka Allah akan membongkar apa yang disembunyikannya dan Allah akan menampakkan amal perbuatanya.

                                                                                                                 Salam Bagimu
                                 




                                                                                                                                          Bersambung ..3

Selasa, 28 Agustus 2012

Umar Ibnul Khattab (Al FaruQ)



Kedudukan dan Martabatnya
     Sayyidina Umar Ra merupakan orang ke tiga dalam urutan perjuang-perjuang dakwah islamiah sesudah Rasulullah Saw dan Abubakar Assiddiq Ra.
     Umar Ibnul Khattab berasal dari kabilah Quraisy dan bertemu saudara sedarah dengan Rasulullah Saw pada kakek mereka. Ka'ab bin Luai.
     Umar mewarisi beberapa kekhususan dari unsur-unsur Arab. Dia berasal dari suku Bani Hasyim. Semasa kanak-kanaknya dia menggembala domba milik ayahnya.
Ketika menjabat khalifah, dia berkata kepada orang-orang yang berada di sekitarnya:
                  "Aku melihat diriku penggembala domba milik ayahku dan sekarang aku dilihat dan tiada ada di atasku kecuali Allah, Robb semesta alam."

    Dia senang berbicara tentang kanikmatan-kenikmatan yang telah diberikan Allah Ta'ala untuknya, antara lain karena dia selalu merasa terpangil untuk berjuang di dalam dakwah. Ia selalu mengakui hal itu sebagai anugerah Allah untuknya.


Kunjungan Tiba-Tiba
    Marilah kita ikuti langkah-langkah Umar yang tengah berjalan menuju rumah Said bin Zaid, suami adiknya. Dengan membawa sebilah pedang, dia menuju rumah adik iparnya. Tujuannya tak lain hendak membunuh Said bin Zaid dan Fatimah binti Alkhattab.
    Namun situasi demikian cepatnya berubah. Sesampainya di rumah mereka , Umar yang terkenal watak kerasnya, menjadi lunak, dan lembut setelah bertemu kedua suami istri itu.
    Lantas, apa yang menyebabkan Umar, singa padang pasir itu berubah?
Inilah kisah awal perjuangan dirinya dalam kehidupan Islamiah.


Apa yang Menyebabkan Umar Masuk Islam
        Pada suatu hari Umar berjalan dengan menyandang pedang menuju tempat berkumpulnya Rasulullah Saw yang pada saat itu sedang berkumpul dengan para sahabatnya sebanyak kira-kira empat puluh orang.
        Pada waktu itu Rasulullah Saw sedang berkumpul dalam sebuah rumah dekat bukit Assofa. Di antara mereka terdapat paman beliau sendiri, yaitu Hamzah bin Abdulmuttalib, Abubakar Assiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain.
        Ketika Umar sedang berjalan menuju ke tempat itu, ia dicegat oleh Nu'aim bin Abdullah yang langsung bertanya kepadanya, "Hendak kemana engkau, hai Umar?"
       Umar menjawab, "Aku sedang mencari Muhammad. Dia telah meninggalkan agama kita dan telah memecah belah kaum Quraisy. Dia telah menghina agama nenek moyangnya, dan memaki tuhan kita. Oleh karena itu aku akan membunuhnya!"

       Nu'aim berkata, Demi Allah, kamu telah tertipu oleh dirimu sendiri, hai Umar! Apakah kamu mengira bani Abdi Manaf akan membiarkanmu berjalan leluasa di muka buma sesudah kamu berhasil membunuh Muhammad?  Sebaiknya kamu pulang ke rumahmu dulu, luruskanlah dulu urusan keluargamu sendiri!"
       Umar bertanya keherana, "Siapa yang kamu maksud dengan keluargaku, dan apa maksudmu?"
Nu'aim menjawab dengan senyum tipis, "Iparmu dan anak pamanmu sendiri, yaitu Said bin Zaid, bahkan adikmu sendiri, Fatimah binti Khattab, telah masuk islam dan mengikuti agama Muhammad. Merekalah yang harus kamu selesaikan urusannya."
       Mendengar perkatanaan Nu'aim, Umar bagai disengat kalajengking. Tak terkirakan terkejutnya. Dengan penuh kemarahan, Umar langsung merubah haluan dan pergi menuju rumah kedua orang keluarganya.
      Pada waktu itu di rumah Said sedang berkunjung seorang sahabatnya, Khabbab ibnul Aratt yang sedang membacakan ayat-ayat Al Qur'an kepada mereka.

      Ketika Umar datang, Fathimah cepat-cepat mengambil lemabaran-lembaran yang bersisi ayat-ayat tersebut dan menyembunyikanya di bawah pahanya. Padahal ketika Umar mendekati rumahnya, ia mendengar bacaan Khabbab, sehingga Umar bertanya kepada mereka, "Syair apa yang telah aku dengar tadi? Saya telah diberitahu bahwa kalian berdua telah mengikuti agama Muhammad." Setelah berkata begitu Umar menyerang Said.
       Melihat akan dianiaya Umar, Fathimah melompat dan berusaha mencegah, tapi malah fathimah yang terkena tamparan Umar, sampai kepalanya berdarah.
       Peristiwa ini bukan membuat ciut hati Fathimah, tapi justru mengobarkan semangat dan keberanian dalam dirinya. Fathimah kemudian berkata kepada kakaknya dengan gagah berani,  "Ya, benar! Demi Allah, kami berdua telah masuk islam dan beriman kepada Allah dan Rasulnya, Muhammad. kini kau sudah mengetahuinya. perbuatlah sesuka hatimu terhadap kami. Kami tidak akan gentar sedikitpun."

       Setelah melihat darah mengucur dari kepala adiknya, ia merasa menyesal. Ia lalu menahan amarahnya dan berkata lagi kepada adiknya, "Kalau begitu, berikan padaku lembaran syair yang telah aku dengar tadi agar aku dapat mempertimbangkan apa yang telah diajarkan Muhammad kepadamu."
       Kemudian Fathimah memberikan lembaran ayat suci tersebut kepada Umar. Dalam lembaran tertulis surat Thaha. Setelah selesai membaca lembaran tersebut, Umar berkata,  "Alangkah indahnya kata-kata ini dan alangkah mulianya."
       Mendengar ucapan Umar, maka keluarlah Khabbab dari tempat persembunyiannya seraya berkata,  "Hai, Umar, Demi Allah, aku berharap Allah memilihmu untuk menerima dakwah nabiNya. Kemarin aku mendengar Rasulullah Saw berdoa: "Ya, Allah, teguhkanlah islam dengan berislamnya Abi Alhakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar ibnul Khattab. waspadalah, wahai Umar."

      Umar berkata kepada Khabbab , "Wahai Khabbab, tunjukkanlah kepadaku tempa Muhammad. Aku akan menemuinya dan aku akan masuk islam.
      Khabbab menjawab, "Dia sedang berkumpul bersama kawan-kawannya di sebuah rumah dekat Assofa."
Setelah mendengar keterangan itu, Umar pergi dengan menyandang pedangnya menuju tempat Muhammad. Sesampainya di rumah itu, ia lalu mengetuk pintu.
      Salah seorang sahabat Rasulullah mengintip dari celah pintu dan melihat Umar menyandang pedang yang terhunus. Melihat demikian, sahabat ketakutan dan langsung memberitahu Rasulullah Saw.
      Untuk melindungi Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muttalib berkata kepada Rasulullah Saw,  "Apakah engkau mengijinkan aku untuk menghadapinya? Kalau dia bermaksud baik kita layani dia dengan baik, tapi kalau dia bermaksut jahat, maka kita bunuh dia dengan pedangnya."

       Mendengar perkataan Hamzah, Rasulullah mengijinkannya.
Hamzah lalu menemui Umar di lorong sempit dan meremas bajunya. Di tariknya erat-erat baju Umar, seraya berkata,  "Apa sebab engkau datang ke sini, hai, Ibnul Khattab?  Demi Allah, tidak akan saya lepaskan engkau sampai Allah menimpakan bencana kepadamu."
       Umar berkata, "Ya, Rasulullah, aku datang untuk beriman kepada Allah dan RasulNya, dan kepada apa yang datang dari Allah."

       Betapa terharu dan leganya Muhammad Saw mendengar pengakuan Umar, begitu pula para sahabat Ra. Muhammad memang berharap dia mendapat hidayah dari Allah Ta'ala. Beliau mempunyai firasat Umar memiliki potensi besar. Jiwanya hidup, kepribadianya mulia dan ia siap menerima segala kebaikan.
       Allah Ta'ala telah mengabulkan doa Rasulullah yang meminta agar Allah memberi hidayah kepada salah satu seorang dari kedua tokoh yang berpebgaruh dan disegani yaitu Umar ibnul Khattab atau Amru bin Hisyam (Abu Jahal). Akhirnya Allah memberi hidayah kepada Umar Ibnul Khattab.
       Allah telah menyelamatkan Umar dari jurang syirik menuju kepada kemuliaan islam. Inilah pertama kalinya cahaya keimanan menyinari dan membuka hati Umar. Bagi Umar ayat-ayat Al Qur'an adalah rahasia hidayah, penggerak dan penghidup hatinya.

Allah berfirman:
                   "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulanh, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Robbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendakiNya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, niscahya tak ada baginya seorang pemimpinpun."
   (Az Zumar 23)

      Umar masuk islam pada bulan Dzulhijah, tahun ke enam sesudah kenabian dan kerasulan Muhammad. sebelumnya telah ada 39 pria dan 23 wanita yang masuk islam.



Kepribadian yang Patut Direnungkan
        Merupakan suatu hal yang aneh, seorang manusia yang berasal dari masyarakat badui tulen dan dari sumber jahiliah pertama menjadi seorang amirul mukminin.
        Umar tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah apalagi sampai merantau ke pelosok negeri untuk menuntut ilmu atau hidup di tengah-tengah ahli pemikir. Tapi nyatanya, ia dapat memberi conrtoh kepada kaumnya dalam mengurus pemerintahan dan kekuasaan yang penuh dengan keadilan, kebijaksanaan, keutamaan, dan berlandaskan figih (hukum) islam.
        Di masa sebelum masuknya islam, Umar dikenal di kalangan kaumnya sebagai utusan yang mampu berdiskusi, berdialog dan memecahkan berbagai urusan. Dia juga pedangang yang mahir dan tekun dalam perdagangannya. Ia dikenal sebagai orang yang mempunyai temperamen kasar, kokoh dalam memegang prinsip, dan berkedudukan tinggi. Oleh karena itu ia digelari Alfaruq Umar ibnul Khattab Ra.

        Tak lama setelah menyatakan keislamanya, ia berkata kepada Rasulullah Saw, "Ya, Rasulullah, mengapa kita sembunyi-sembunyi dalam menyiarkan agama kita, padahal kita berada di atas kebenaran dan mereka (kaum kafir) berada di atas kebatilan?"
        Rasulullah Saw menjawab,  "Jumlah kita sedikit dan kamu dapat melihat sendiri apa yang selalu kita alami."
Umar berkata lagi, "Demi yang mengutus engkau dengan haq, aku berjanji bahwa di tiap-tiap tempat yang pernah aku sebarkan kekafiran, akan aku datangi untuk menyebarkan keimanan."
        Pada suatu hari Rasulullah Saw bersama kaumnya pergi menuju Ka'bah dengan dua barisan. Barisan pertama dipimpin oleh Hamzah, dan barisan ke dua dipimpin oleh Umar. Ketika melihat kedua barisan yang dipimpin oleh Hamzah dan Umar, kaum kafir tampak muram wajahnya dan kecut hatinya. Maka sejak itu Rasulullah Saw memberi gelar Umar dengan "ALFARUQ" yang artinya "pembela antara haq dan batil."



Umar dan Hijrah
         Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, mereka seluruhnya meninggalkan kota Makah secara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar. Hanya Umar yang hijrah secara terang-terangan.
         Ia sengaja pergi di siang hari dan melewati gerombolan-gerombolan Quraisy. ketika melewati mereka, Umar berkata, "Aku akan meninggalkan Makah dan hijrah ke Madinah. barang siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silahkan menghadang aku di belakang lembah ini!"
         Mendengar perkataan Umar yang gagah itu, tidak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar.
Itulah kekuatan yang dimiliki Umar sejak awal keimanannya sampai dalam mengarungi seluruh hidupnya.
         Di jaman ini, alangkah butuhnya kita memiliki orang yang berkekuatan seperti Umar. Kuat jiwa raganya dan kokoh kepribadianya. Karena Allah senang kepada orang-orang yang berjiwa kuat dan benci kepada orang-orang yang berjiwa lemah.
         Apa yang dapat membangkitkan kejayaan islam adalah apa dan bagaimana yang pernah dikerjakan kaum muslimin terdahulu.
Kaum muslimin yang ada dewasa ini seperti anak-anak yatim menghadapi hidangan kaum yang rakus dan keji. Tidak ada yang menyayangi dan mengasihi, kecuali kekuatan mereka sendiri.
        Seruan Allah terus-menerus berkumandang di telinga kaum muslimin untuk membangkitkan mereka yang lengah, lalai dan lemah.
                   
                    "Dan  siapkanlah  untuk  menghadapi  mereka  kekuatan  apa  saja  yang kamu sanggupi ..."    (Al Anfal 60)



Pikiran yang Lurus dan Tepat
         Ketika terjadi fitnah dan bohong yang menyangkut Siti Aisyah Ra, Rasulullah Saw bermusyawarah dengan beberapa tokoh sahabat untuk dimintai tanggapan mereka.
         Ketika beliau berbicara dengan Umar Ra maka Umar berkata, "Ya, Rasulullah, siapakah yang mengawinkan Rasulullah dengan Aisyah?  "Nabi Saw menjawab,  "Allah."
Umar bertanya lagi, "Apakah Allah menipu anda?"
                  "Maha suci, Engkau, ya, Allah Sesungguhnya ini berita bohong yang besar, "Ucap Rasulullah.

Setelah beliau mengucapkan itu, turunlah firman Allah:
                  "Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Roob kami), Ini adalah dusta yang besar."   (An Nuur 16)

        Ini hanya merupakan sebuah contoh dan masih banyak lagi ayat Al Qur'an yang turun membenarkan pendapat Umar Ra. Umar Ra berkali-kali berkata kepada Rasulullah Saw:
                  "Jelaskanlah bagi kami keputusan yang memuaskan tentang minum arak."
        Tak lama kemudian, setelah Umar berkali-kali berkata begitu, turunlah firman Allah Ta'ala:
                  "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntnggan."  (Al Maidah 90)
         Abdullah bin Ubai adalah pemimpin kaum munafik, tapi ada di antara anak-anaknya yng menjadi pemimpin dan pejuang kaum muslim. Oleh karena itu, ketika Abdullah bin Ubai wafat, Rasulullah Saw hendak menyolatinya sebagai tanda simpati kepada anaknya yang muslim. Tapi perbuatan tersebut di tegur Umar Ra. Ia berkata kepada Rasulullah Saw,  "Ya, Rasulullah, bagaimana engkau menyolati orang munafik ini padahal dialah yang berkata,  "Orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang lemah dari padanya."    
   (Al Munafiquun 8)
Setelah Umar berkata begitu, turunlah ayat Al Qur'an:
                "Dan janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang mati diantara mereka , dan janganlah kamu berdiri di kuburannya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan rasulNya dan mereka mati dalam keadaan fasik."  (At Taubah 84)


       Ketika terjadi perang Badar, banyak kaum kafir Quraisy yang menjadi tawanan kaum muslim. Seperti biasanya, Rasulullah Saw bermusyawarah dengan para sahabat tentang tindakan yang patut di berikan kepada para tawanan itu. Hal tersebut dimusyawarahkan karena Rasulullah belum diserahi ketetapan Allah tentang kebijaksanaan perkara ini.
       Umar Ra berpendapat seluruh tawanan harus di bunuh, sedangkan Abubakar Ra berpendapat para tawanan itu dibebaskan dengan tebusan oleh keluarga para tawanan.
        Ternyata Rasulullah Saw menyetujui dan melaksanakan pendapat Abubakar Ra. Tapi tak lama kemudian turun ayat:
                   "Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."  
  (Al Anfal 67)

       Turunnya ayat ini menyuratkan bahwa Allah membenarkan pendapat Umar Ra. Mendengar ayat ini Abubakar langsung menangis dan berkata,  "Kalau sekiranya turun azab dari langit maka tidak akan ada yang selamat kecuali Umar."





Bersambung ke 2 ..



               

Senin, 27 Agustus 2012

Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq) II




Setia Kawan - Persaudaraan - Keimanan
      Kini anda sudah mengetahui kokohnya keimanan Abubakar , kepercayaan nya tanpa batas, perasaannya hidup sejak kelahiran dakwahnya, baik dalam peristiwa Isra' Mi'raj, pada waktu perang Badar, dan kala menuju Makkah. Kini marilah kita amati kisah-kisah keteladanaannya yang lain.
    Ketika tersiar berita wafatnya Rasulullah Saw, umat islam dilanda kepanikkan. Umar kehilangan kendali dan kesadaran dirinya. Umar berkata, "Muhammad Saw tidak mati. Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan ku penggal lehernya!"

Pada waktu itu, Abubakar menghampiri Umar untuk menyadarkannya dan menentramkan hatinya dengan membacakan ayat Al Qur'an, seolah-olah Umar belum pernah mendengarnya:
              "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? ...
     (Al Imran 144)

  Mendengar nasehat ini hati Umar menjadi tentram dan iapun segera menyadari kealpaannya. Jika begitu, tidakkah Abubakar Ra patut memperoleh kabar gembira masuk surga? Kalau dia dikatakan tidak patut, maka siapa lagi yang patut dan berhak masuk surga, padahal Rasulullah Saw telah bersabda:
               "Jikalau aku boleh menunjuk dari hamba-hamba Allah seseorang Kholil (kawan kesayangan) maka aku akan menunjuk Abubakar sebagai Kholil, tapi karena kesetiakawanan , persaudaraan dan keimananlah, sehingga Allah mengumpulkan kita bersama di sisinya." 
      (HR. Bukhari dan Muslim)

    Abubakar Ra adalah mujahid dakwah petama yang rela berkorban dengan diri dan hartanya. Dia menebus tujuh orang mukmin yang paling setia, lalu dia memerdekakan mereka dari perbudakan. Oleh karena Nabi Saw bersabda:
             "Tiada seorang pun bermanfaat bagiku hartanya sebagaimana bermanfaat bagiku harta Abibakar."     (HR. Ibnu Maajah dan At Tirmidzi)

    Saudagar besar Abubakar mengetahui benar bahwa tidak ada gunanya harta yang banyak bila tidak di belanjakan untuk kepentingan islam dan kaum muslim. Bukankah seluruh harta benda kita mutlak sepenuhnya milik Allah? Kita hanya diserahi untuk memanfaatkannya sesuai dengan petunjuk dari pemiliknya.
    Oleh karena itu dalam perkara panggilan infak fi sabilillah, Abubakar Ra segera datang menghadap Rasulullah Saw sambil meyerahkan seluruh harta miliknya. Rasulullah Saw bertanya, "apa yang kamu tinggalkan (sisihkan) untuk kelurgamu dan hartamu, hai , Abubakar?"
      "Abubakar menjawab, "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya,"  (HR, Abu Naim dalam Alhulyah)
Itulah yang dikatakan keimanan yang sebenarnya. Itulah yang menyebabkan dia bertahan dengan segala beban dalam rangka mensukseskan dakwah dan meninggikan Kalimatullah. Demikian perilaku orang-orang beriman
      Suatu ketika Abubakar dipukul oleh Utbah bin Rabi'ah dan kawan-kawannya (orang Quraisy) sampai pingsan. Setelah sadar dia bertanya,  "Bagaimana keadaan Rasulullah?"
Dijawab oleh para sahabatnya, "Rasulullah selamat."
Abubakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan makan sesuap atau minum setegukpun sebelum aku berjumpa dengan Rasulullah Saw."
     Hati Abubakar gelisah, sehingga dia pergi menemui Rasulullah Saw di tempat pertemuan, yakni di rumah Daarul Arqom bin Abil Arqom. Abubakar mohon kepada Rasulullah agar berdoa supaya ibunya mau masuk islam. Rasulullah Saw kemudian berdoa dan Allah mengabulkan doa beliau. Ibunda Abubakar akhirnya memeluk islam.

  Tapi bila diteliti rahasia  kebesaran Abubakar pada  Shalat malamnya atau pada puasanya, maka tidak begitu istimewa, karena ibadah-ibadah itu dikerjakan oleh para sahabat Ra lainnya. Rahasia Abubakar yang paling hakiki adalah apa yang terhujam dalam kalbunya. Itulah keimanannya, yang bila ditimbang dengan keimanan seluruh umat maka iman Abubakar lebih berbobot. Hatinya tinduk dan pasrah kepada Allah, dan itu dibenarkan oleh hadist Qudsi firman Allah:
             "Akulah (Allah) pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, dan pengliatannya yang digunakan untuk melihat, dan tanganya yang digunakan untuk kekuatannya dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan.  "     (HR. Bukhari)
    Abubakar juga manusia robbani yang lemah lembut seperti angin sepoi, tapi ia jiga bisa keras seperti baja.


Sifat-Sifat Tingkah Lakunya
      Abubakar adalah seorang manusia yang rendah hati, lemah lembut, dan tidak pernah berlaku angkuh, apalagi bertindak sewenang-wenang, baik semasa jaman Jahiliah maupun sesudah dia masuk islam, lebih-lebih sesudah dia menjadi khalifah. Kalau ada orang yang memujinya dia berkata, "Ya , Allah , Engkau lebih mengetahui tentang diriku daripada aku sendiri."  Kalau pada saat naik unta, kebetulan tali kendalinya jatuh, maka dia sendiri yang turun untuk mengambilnya. Ia tidak pernah menyuruh orang lain untuk mengambilnya.

   Dialah orang muslim pertama yang membebaskan budak. Dia juga merupakan khalifah Rasulullah Saw yang pertama, dan orang pertama dari ke sepuluh orang "Almubasysyarin bil jannah"
   Kesadaran hati nuraninya mencegah dia makan sesuatu makanan yang meragukan sumber perolehannya. Dia selalu bersegera menyambut ajakan amal kebajikan dan santunan, seperti puasa sunnah, menengok orang sakit, bersedekah, dan lain-lain, sehingga Umar berkata:
                 "Aku tidak pernah mendahului Abubakar dalam mengamalkan kebajikan. Dia yang selalu mendahuluiku."

Ali bin Abi Thalib Ra berkata:
                 "Itulah perlombaan. Demi yang jiwaku di gengamanNya, tiada kita bersegera dalam amal kebajikan kecuali Abubakar yang selalu mendahului kita."


Perintah Pertama Oleh Abubakar Ra
     Masalah terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah Saw yang menyangkut peperangan sebelum beliau wafat, adalah dalam mempersiapkan tentara yang akan membawa panji dakwah ke negeri jajahan Romawi, yaitu Syam, yang meliputi Syira, Libanon, Yordania, dan Palestina (tempat masjid Aqsho)
     Sebelumnya tentara Muslim sudah pergi dua kali ke arah Baitul Maqdis, yaitu dalam peperangan di Tabuk dan Mu'tah. Kedua peperangan itu adalah perang dalam rangka penjagaan untuk menguji kemampuan diri dan kekuatan lawan.

    Sekarang ini Mu'tah terletak di Yordania dan Tabuk berada di utara jazirah Arab dekat perbatasan Mesir dan Palestina. Jarak dari Madinah ke Tabuk lebih kurang tujuh ratus kilometer.
    Tentara yang dikirim Rasulullah Saw  ke Tabuk berjumlah 30.000 orang, sepuluh kali lipat tentara yang dikirim ke peperangan Mu'tah.
Setelah dua tahun, Rasulullah Saw menyiapkan pasukan tentaranya, maka mereka pun telah siap menuju Mu'tah dan Tabuk.
    Nabi Saw memerintahkan kepada segenap sahabat senior, termasuk Abubakar dan Umar agar ikut serta. Komando tertinggi diserahkan kepada seorang pemuda yang masih berusia di bawah dua puluh tahun, yaitu Usamah bin Zaid.

    Sebelum pasukan diberangkatkan menuju Syam, tiba-tiba kaum muslimin di sibukan oleh sakitnya Rasulullah Saw, sampai akhirnya beliau wafat.
Setelah wafat nya Rasulullah Saw, para sahabat Ra bermusyawarah memilih khalifah pengganti kepemimpinan Rasulullah Saw. Dari hasil musyawarah itu di tetapkan Abubakar Assiddiq sebagai khalifah.
    Setelah beberapa hari Abubakar dipilih menjadi khalifah, ia tetap menyiapkan pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid, meskipun pada waktu itu sebagian kaum muslim telah murtad dan membangkang. Mereka menolak mengeluarkan zakat. Bagaimanapun keadaannya, Abubakar tetap bersikeras melaksanakan rencana Rasulullah Saw.

   Pada saat upacara pelepasan pasukan, Abubakar berdiri, sedangkan Usamah (sebagai kepala pasukan) menunggang kuda yang pernah dinaiki ayahnya, Zaid, ketika mati syahid di dalam peperangan Mu'tah.
Melihat Abubakar yang hanya berdiri itu, Usamah merasa kikuk dan malu. Lalu ia berkata kepada Abubakar, "Demi Allah, engkau menunggang kuda atau aku turun."
    Abubakar Ra menjawab, "Demi Allah, engkau jangan turun dan demi Allah aku tidak mau naik kuda! Apa salahnya jika kaki ku terkena debu tanah fisabilillah barang sebentar?"
     Pada saat itu, Abubakar sebagai khalifah minta ijin kepada Usamah agar Umar Ra tetap tinggal di Madinah dan tidak menyertai pasukan, karena  Abubakar amat membutuhkannya untuk kepentingan pemerintahan yang masih dalam keadaan krisis. Usamah mengabulkan permintaan Abubakar.

    Dalam upacara pelepasan pasukan tersebut, Abubakar berpidato. Dalam pidatonya ia menyampaikan sepuluh pesan bersejarah, yaitu:
                     "Jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan menipu (berbuat makar), jangan membunuh lawan dengan cara sadis, jangan membunuh anak-anak, lelaki lanjut usia, dan wanita. Jangan menebang pohon kurma atau pohon-pohon yang sedang berbuah, jangan melakukan pembakaran, jangan menyembelih domba, sapi dan unta kecuali hanya untuk sekedar kebutuhan dimakan dagingnya.Nanti kalian akan berjumpa dengan orang-orang yang bertapa dalam biara, biarkan mereka dan jangan mengusik mereka."

    Setelah pasukan tersebut pulang dari medan tempur, Abubakar Ra dan penduduk Madinah menyambut kedatangan mereka. Abubakar sendiri yang memberi penghormatan dan penghargaan kepada pahlawan muda belia itu.
    Peperangan ini merupakan pembuka jalan perluasan wilayah kaum muslim. Selama kurang dari dua tahun kaum muslimin mampu menghadapi tentara Romawi, sehingga mereka dapat menguasai Baitul Maqdis pada masa khalifah Umar ibnul Khattab Ra.




Pengumpulan Ayat-Ayat Al Qur'an
       Peperangan  "Alyamamah" adalah salah satu peperangan yang dihadapi kaum muslimin setelah Rasulullah Saw wafat. Dalam peperangan tersebut banyak penghafal Al Qur'an yang gugur. Bagaimana kalau sisa-sisa penghafal (huffadz) Al Qur'an gugur semua?
      Itulah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran Umar Ra semasa khalifah Abubakar. Oleh karena itu Umar berpendapat Al Qur'an harus dikumpulkan agar keutuhannya tetap terselamatkan.
      Kaum muslimin yang murtad berada di bawah pimpinan Musailamah bib Habin, tapi mereka di tumpas dan dikalahkan, mereka kembali ke pangkuan islam. Tentara islam yang menumpas pemberontak bani Hanifah di Albahram, berada di bawah pimpinan Mutsanna inbu Haarithah dan Alfurat. Ternyata mereka adalah pasukan pertama yang menguasai Irak dan yang pertama kali mendirikan emperium islam, walaupun harus ditebus dengan pengorbanan besar.

     Dalam peperangan tersebut telah gugur 1.200 orang dan 39 orang, di antara mereka yang gugur itu adalah penghapal Al Qur'an.
     Salah satu penghapal ayat-ayat Al Qur'an adalah Zaid bi Tsabit. Ia di panggil oleh Abubakar untuk kepentingan usulan Umar Ra. Mereka kemudian bermusyawarah yang juga dihadiri Umar Ra.
Dalam musyawarah itu Abubakar berkata kepada Zaid bin Tsabit,  "Ketika Umar mendesak usulanya, aku menjawab,  "Mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?" Tetapi Umar menegaskan, "demi Allah, ini adalah perbuatan baik.  "Akhirnya Allah membukakan hatiku untuk menerima pendapat Umar.  Hai Zazid, engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang kupercayai sepenuhnya. Engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rasulullah, maka kumpulkanlah ayat-ayat Al Qur'an itu."

    Zaid menjawab,   "Demi Allah ini adalah pekerjaan yang berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan bukit, maka hal itu tidak lebih berat bagiku dari pada mengumpulkan Al Qur'an yang engkau perintahkan itu, ya Abubakar."
    Kemudian Zaid bertanya kepada Abubakar dan Umar,  "Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbuat Rasulullah?"
Abubakar menjawab, "Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik."
Lalu Zaid pun mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an yang tercatat pada daun, pelepah kurma, batu, tanah keras, tulang unta dan dar sahabat-sahabat yang hafal Al Qur'an.

    Zais bin Tsabit bekerja dengan amat teliti. Meskipun dia hapal Al Qur'an secara menyeluruh tapi dia masih merasa perlu mencocokkan hafalan atau catatan-catatan para sahabat dengan disaksikan oleh dua orang saksi.
    Dengan begitu seluruh ayat Al Qur'an telah di tulis oleh Zaid dalam lembaran-lembaran. Ia mengikatnya dengan benang, di susun menurut ayat-ayatnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw, Kemudian setelah itu ia serahkan kepada Abubakar.
    Lembaran-lembaran itu tetap berada di tangan Abubakar sampai wafat, Mushhaf itu dipindahkan ke rumah Hafshah, putri Umar yang juga istri Rasullullah Saw sampai masa penyusunannya di masa khalifah Utsman Ra.
Sayyidina Ali Ra berkata:
                "Rahmat Allah atas Abubakar, dia lah yang paling besar ganjarannya dalam pengumpulan Al Qur'an



Wasiat Abubakar Assiddih Kepada Umar Ra
      Pesan-pesan berharga yang pernah diucapkan beliau kepada Umar Ra semasa hidupnya dalam dekade dan periode yang berjiwa kenabian akan kami paparkan di bawah:
               "Aku menunjuk kau sebagai khalifah sesudahku dan berpesan padamu agar bertakwa kepada Allah. Bagi Allah, ada amalan yang harus dikerjakan malam hari dan tidak dapat diterimaNya pada siang hari dan ada pula amal perbuatan yang harus dikerjakan pada siang hari yang tidak dapat diterimaNya pada malam hari. Allah tidak akan menerima amalan tambahan (nafilah) sehingga dikerjakan yang wajib. Orang0orang yang berat amal kebajikannya di hari kiamat nanti adalah mereka yang mengikuti kebenaran di dunia. Tapi orang yang selama di dunia condong dan mengikuti kebatilan maka timbangan kebajikannya akan ringan. Allah memanggil ahli surga dengan menyebut perbuatan mereka yang terbaik dan membatasi amal mereka yang buruk. Kalau aku ingat mereka, aku berkata:  "Aku takut menjadi serupa mereka, dan Allah memanggil ahli neraka dengan perbuatan mereka yang paling keji. Bila aku mengingat mereka, aku berkata,  "Aku berharap tidak menjadi serupa mereka.   "Allah menyebut ayat rahmat bersamaan dengan ayat azab dan siksa agar manusia tertarik untuk mengikuti, terancam lalu menjahui kebatilan."

Ucapanya lagi:
                    "Hendaklah manusia mengharapkan kebajikan dari Allah, jangan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Kalau engkau telah meresapi pesan-pesanku ini, janganlah ada sesuatu yang gaib yang paling engkau senangi selain kematian yang pasti akan menimpa dirimu.  Tapi kalau engkau mengesampingkan pesnku, maka tidak akan ada sesuatu yang gaib yang lebih engkau benci daripada kematian dan engkau tidak akan bisa menghindar dari azab Allah."


Pujian Siti Aisyah Ra Terhadap Kebajikan
Abubakar Ra
      Setelah Abubakar Ra wafat, maka Siti Aisyah Ra berdiri dekat kuburanya dan berkata,  "Allah menyinari wajahmu dan mensyukuri amal usahamu yang shaleh. Engkau merendahkan dunia dengan hidup membelakanginya  dan engkau memuliakan akhirat dengan hidup menghadapnya. Bencana paling besar sesudah wafat nya Rasulullah Saw adalah kematianmu dan musibah terbesar adalah kepergianmu.  Kitabullah (Al Qur'an) menjanjikan sebai-baiknya hiburan bagimu dan sebaik-baiknya penganti dari kamu. Aku akan memohon janji Allah dengan limpahan kesabaran dan dengan iklas aku akan memohon pengampunan bagimu."


Wafatnya Abubakar Assiddiq Ra
     Abubakar Ra wafat pada hari senin malam selasa, antara magrib dan isya, tanggal 22 Jumadil akhir tahun 13 Hijriah dalam usia 63 tahun, sama dengan usia wafatnya Rasulullah Saw. Dia memangku jabatan selama dua tahun tiga bulan lebih sepuluh hari. Ia meninggalkan lima orang anak, tiga laki-laki dan dua perempuan, yaitu Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Aisyah dan Asmaa (istri Azzubair ibnul Awwam).



Berhenti Bila Anda mengunjungi Kuburan Rasulullah Saw
      Bila anda berkesempatan dapat mengunjungi kuburan Rasulullah Saw di masjid Nabawi, Madinah, maka setelah mendoakan beliau, bergeserlah ke kanan, sekitar satu hasta. Maka anda akan mendapatkan kuburan Abubakar Assiddiq Ra. Pada saat itu hadapkan diri anda ke kepalanya, lalu ucapkan:
                   "Salam bagimu, ya Kahalifah Rasulullah. Salam bagimu pemegang rahasia-rahasia Nabi Saw. Semoga Allah membalas jasa-jasa mu sebagai balasan yang paling afdol terhadap seorang pemimpin umat nabiNya. Engkau telah menjadi sebaik-baiknya khalifah. Engkau merintis jalan dan ajaran Nabi dengan sebaik-baiknya. Engkau membela dan selalu memenangkan islam. Engkau selalu menghubungkan tali silaturahmi . Selamanya engkau menegakkan haq sampai tiba ajalmu. Salam bagimu, rahmat dan bharokah Allah menyertaimu."






Kamis, 23 Agustus 2012

Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq)




Silsilahnya
     Abubakar Assiddiq ra adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah Saw, meskipun lain keluarga. Abubakar ra berasal dari keluarga TAMIMI, sedang Rasulullah Saw dari keeluarga HASYIMI, Tapi kedua-duanya berasal dari satu suku, yaitu suku Quraisy.
   
Keutamaanya
      Abubakar Assiddiq adalah seorang pedagang yang selalu memelihara kehormatan dan harga dirinya. Ia seorang yang kaya harta, pengarunya besar dan memiliki akhlak yang mulia. Dari sebelum datangnya agama islam, ia sudah menjadi kawan akrab Muhammad Saw. Oleh karenanya sifat dan tabiatnya mirip dengan Muhammad Saw.
     Belum pernah ada orang yang menyaksikan dia minum arak atau menyembah berhala. Dia juga tidak pernah berdusta. Oleh karena itu tidak heranlah bila dia berkawan erat dengan Muhammad Saw. Usianyapun hampir sama dengan usia Nabi Saw. Begitu pula delam kemuliaan, profesi dan keturunan, sehingga tidak heran bila dia menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah Saw wafat.
     Abubakar ra seorang pedagang, begitu pula Rasulullah Saw. Dia menepati kedudukan terhormat di kalangan kamunya, begitu pula Rasulullah yang dikenal sebagai pemuda yang jujur (Alamin). Maka tidak mengherankan, bila Abubakar menjadi orang pertama (pria) yang menyambut dan menerima dakwah Rasulullah Saw.


Rahasia kebesarannya
       Nabi Saw selalu mengutamakan Abubakar ra daripada sahabat-sahabatnya yang lain, sehingga tampak menonjol di tengah-tengah orang lain. Dari besarnya perhatian Rasulullah kepadanya, orang sudah bisa meramalkan dia akan menjadi khalifah yang sukses dalam setiap sikap dan pendirian dalam menghadapi tantangan kehidupan ini. Dia telah dapat meraih ketinggian budi dan kesempurnaan iman. Hal ini disaksikan sendiri oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya:
        "Jika ditimbang keimanan Abubakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimanan Abubakar."  (HR. Al Baihaqi dalam Asysyiib)

     Diantara para sahabat memang ada yang lebih berani dan lebih berpengetahuan dari dirinya, tapi tidak ada yang lebih besar keimanannya  dari Abubakar.
Al Qur'an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan Allah dalam firmanya:
       "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkanya baginya jalan yang mudah."  (Al Lail 5-7)

     "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkanya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Robbnya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan."   
(Al Lail 17-21)

Allah Ta'ala juga berjanji dalam firmanNya:
          "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Robb kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."     (Fushshilat 30)

Allah Swt juga mengabdikan sebuah kisah untuk kita jadikan hikmah:
           " ... dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita ..."
(At Taubah 40)


Abubakar mengajak Manusia kepada Islam
Ahli sejarah, Ibnu Ishaq berkata:
        Setelah Abubakar ra memeluk agama Islam dan menyatakan keislamannya secara terbuka, dia mengajak orang-orang kepada Allah Swt."

   Abubakar adalah orang yang baik hati, ramah, dan pandai bergaul dengan kaumnya dan mudah jika berurusan dengannya. Dia termasuk yang berketurunan tinggi (bangsawan) dalam suku Quraisy, dan banyak mengetahui kebaikan dan keburukan sukunya.
    Dia pedagang yang berakhlak, bermoral tinggi sehingga tak heran bila di disenangi dalam pergaulan. Banyak kaumnya yang datang kepadanya dengan sengaja untuk berbagai urusan. Pada saat itu, orang yang dipercayainya diajak masuk islam.
    Orang yang menerima ajakannya, antara lain Azzubair ibnul Awwam, Utsman ibnu Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurahman bin Auf. Mereka pergi menemui Rasulullah dengan disertai  Abubakar. Rasulullah Saw menawarkan Islam kepada mereka, membacakan beberapa ayat Al Qur'an dan menjelaskan kebenaran ajaran islam. Serentak mereka menyambut dan menyatakan keisalamnya. Mereka tergolong delapan orang pertama yang masuk islam."  (Dari kitab Albidayah)


Keimanannya Tanpa Ragu
     Awalnya Abubakar masuk islam adalah ketika ia bertemu dengan Rasulullah Saw. Ia bertanya, "Ya Muhammad, apakah benar apa yang dituduhkan kaum Quraisy terhadapmu bahwa kamu meninggalkan tuhan-tuhan kita, merendahkan akal pikiran kita dan mengkufuri ajaran-ajaran nenek moyang kita?"
 
     Muhammad Saw menjawab, "Ya benar! Sesungguhnya aku ini rasul Allah dan NabiNya. Allah mengutus aku untuk menyampaikan risalahNya dan mengajakmu kepada Allah yang benar. Demi Allah, itu adalah haq. Aku mengajakmu, hai Abubakar kepada Allah Yang Esa, tunggal, tiada sekutu bagiNya. jangan kamu menyembah selain Allah dan patuh serta taatlah kepada-Nya.
     Kemudian Rasulullah Saw membaca beberapa ayat Al Qur'an. dengan serta merta Abubakar masuk islam. Ia mengkufuri patung berhala dan menjadi mukmin yang benar. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda:
           "Tiada aku mengajak seorang masuk islam, tanpa ada hambatan, keraguan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan, hanya Abubakar lah. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun."   (Dari kitab Albidayah Wannihayah)

Rasulullah menyebut Abubakar dengan bangga dan mengingatkan orang lain tentang dia sebagai pendahulu dalam menerima agama islam dan terhadap jasa-jasanya yang besar dalam menegakkan Kalimatullah.
Rasulullah Saw bersabda:
          "Sesungguhnya Allah mengutusku kepadamu dan kamu berkata, "Engkau pendusta!. Abubakar menyantunni aku dengan dirinya dan hartanya. Tidakkah kalian berhenti menganggunya." dan sesudah itu, Abubakar tidak pernah diganggu lagi.   (HR. Bukhari)

    Sahabat Abdullah Ibnu Abbas Ra ditanya, "Siapa orang pertama yang beriman (kepada Muhammad)?"  Abdullah ibnu Abbas menjawab, "Abubakar Assiddiq."





Dari Perlindungan Manusia kepada
Perlindungan Allah
       Meskipun Abubakar berkedudukan mulia dalam lingkungan kaumnya, tapi ia juga tidak luput dari gangguan kaum Quraisy.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Siti Aisyah ra: "Ketika kaum muslim di Makkah yang berjumlah sedikit mengalami tekanan dan penganiayaan dahsyat, Abubakar minta ijin kepada Rasulullah Saw untuk hijrah ke Habasyah. Rasulullah Saw mengijinkannya, maka pergilah dia.
      Ketika sampai ke suatu tempat yaitu BARKULIMAD, ia bertemu dengan Ibnu Addaghnah, pemimpin suku setempat. ibnu Addaghnah bertanya, "Hendak kemana hai Abubakar?"
  Abubakar menjawab, "Aku dipaksa keluar (dari Makkah) oleh kaumku, dan aku ingin merantau di muka bumi sehingga aku dapat beribadah kepada Robbku."
     Ibnu Addaghnah berkata, "Orang seperti engkau, hai Abubakar tidak boleh keluar atau di keluarkan. Engkau menolong orang, suka bersilahturahim , membantu orang sengsara dan lemah, dan menghormati tamu. Aku bersedia menjadi pelindungmu. Kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negerimu.

    Abubakar ra pulang ke Makkah bersama Ibnu Addaghnah. Ia memberitahu Quraisy bahwa dialah yang melindungi Abu Bakar dan ia melarang siapapun juga menganggu Abu Bakar.
Mengetahui hal itu kaum Quraisy mengemukakan persyaratan . Abubakar tidak akan diganggu asalkan ia tidak bersuara keras dalam beribadah karena dikhawatirkan kaum wanita dan anak-anak mereka terpengaruh.
 
      Setelah itu, Abubakar membangun sebuah musholla di halaman depan rumahnya. Ia shalat dan mengaji Al Qur'an di situ. Para wanita dan anak-anak kaum musyrikin tertarik dan sering menyaksikannya.
Setiap kali sehabis membaca Al Qur'an, Abubakar ra menangis, sehingga tokoh-tokoh kaum musyrikin penasaran dan khawatir. Mereka lalu mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Addaghnah, dan berkata, "Kami mengabulkan perlindunganmu terhadap Abubakar dengan syarat dia menyembah Tuhanya di rumahnya. Tapi ternyata dia melanggar perjanjian. Abubakar bahkan membangun musholla di halaman rumahnya. Ia shalat dan membaca dengan suara lantang. Kami takut anak-anak dan istri-istri kami terpengaruh. Oleh karena itu laranglah dia. "Kalau dia mau menyembah Tuhanya di rumahnya, biarkanlah, tapi kalau dia tidak mau, maka dia harus mengembalikan perlindunganmu.

    Ibnu Addaghnah kemudian pergi menemuni Abubakar dan berkata, "Engkau telah mengetahui perjanjianku dengan Quraisy. Engkau tepati atau kembalikan janji perlindunganku,"
     Abubakar berkata, "Aku kembalikan janji perlindunganmu dan ridho dengan perlindungan Allah Azza Wajalla,"
Sesudah Addaghnah tidak melindunginya lagi gangguan Quraisy terhadapnya semakin gencar.
Inbu Ishaq berkata:
        "Pada suatu ketika, Abubakar bersandar di dinding Ka,bah. Lalu datang orang jahil bermoral rendah. Ia menghampiri Abubakar dan menaburkan pasir di atas kepala Abubakar.

    Setelah itu Alwalid ibnul mughirah atau Alaash bun Waail lewat lewat, dan Abubakar berkata kepadanya, "Tidakkah kamu melihat apa yang dilakukan orang jahil itu kepadau?"
Alwalid  menjawab, " Kamu yang menyebabkan hal itu karena menanggalkan perlindungan Ibnul Addaghnah."  Abubakar berkata, Ya Tuhanku, alangkah sabar dan pemaaf Engkau. Ya, Tuhanku, alangkah sabar dan pemaaf Engkau. Ya, Tuhanku alangkah sabar dan pemaaf Engkau."





Sikapnya yang Mencerminkan Kekuatan Iman
     Setelah peristiwa Isra' orang-orang yang mendustakannya mendatangi Abubakar seraya berkata, "Apakah kamu mendengar apa yang diceritakan kawanmu?"
     Abubakar spontan menjawab tanpa ragu, "Demi Allah, kalau memang itu yang diucapkannya pasti benar. Dia (Muhammad) memberitahu aku bahwa berita-berita dari langit sampai ke bumi hanya dalam satu jam, malam atau siang dan aku mempercayainya, sedang itu lebih aneh dari yang kalian herankan."


Kecintaan Abubakar Ra Pada Rasulullah Saw
     Kekuatan akhidah dan keteguhan iman dapat dilihat pada saat orang menghadapi perjuangan (kekerasan). Kekuatan akhidah dan keteguhan iman  Abubakar dapat dibuktikan dalam segala situasi dan kondisi. Bukti yang nyata adalah saat dia hijrah ke Madinah.

   Albaihaqi meriwayatkan bahwa di masa khalifah Umar Ra ada beberapa orang yang berbincang-bincang. Orang itu lebih mengutamakan Umar Ra daripada Abubakar. Berita tersebut sampai kepada Umar, lalu Umar berkata:
            "Demi Allah, satu malam dari Abubakar lebih baik dari seluruh keluarga Umar. Satu hari dari Abubakar lebih baik dari seluruh keluarga Umar. Ketika Rasulullah Saw pergi menuju gua bersama Abubakar, sebentar-sebentar Abubakar berjalan di depan Rasulullah dan sebentar kemudian berada di belakang Rasulullah Saw. Melihat demikian Rasulullah Saw bertanya, "Mengapa engkau berbuat begitu, hai Abubakar?"

    Abubakar menjawab, "Ya, Rasulullah, aku ingat lawan mengejar dari belakang, maka aku berjalan di belakangmu, lalu aku ingat pengintaian lawan dari depan untuk mencelakakanmu maka aku berjalan di depanmu."
    Rasulullah Saw bertanya, Ya, Abubakar, kalau terjadi sesuatu apakah kamu lebih suka dirimu yang terkena dan bukan aku?"
    Abubakar menjawab, "Benar demikian , Ya, Rasulullah. Demi yang mengutusmu dengan haq."
Ketika mereka tiba di pintu gua, Abubakar Ra berkata, "Tetaplah di tempatmu, ya Rasulullah. Aku akan turun dulu untuk mengamankan gua."
    Lalu Abubakar masuk ke dalam gua. Setelah diketahui gua itu aman, Abubakar berkata, "Turunlah, ya, Rasulullah."
    Umar amat terharu dengan perlakuan Abubakar terhadap Rasulullah Saw, maka ia berkata, "Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, malam itu lebih baik dari seluruh keluarga Umar."




Di Waktu Perang Badar
    Sewaktu akan menghadapi perang Badar, kaum muslimin bersiap-siap menghadapi musuh. Mereka cepat mengambil posisi di medan tempur, dan pada waktu itu Rasulullah Saw masih khusyu berdoa:
            "Ya, Allah, jika Engkau binasakan kelompok ini maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi."

  Saat itu Abubakar menghampiri Rasulullah Saw dan berkata, "Ya, Rasulullah, tenangkan dirimu dan mantapkan hatimu. Sesungguhnya Allah pasti akan menepati janjiNya dan sekali-kali tidak akan mengecewakanmu."
Mendengar perkataan Abubakar hati Rasulullah Saw menjadi mantap dan tenang. Pantaslah bila Rasulullah menggelarinya Assiddiq, orang yang selalu benar dan membenarkan Muhammad sebagai RasulNya.


Sikap Abubakar Menghadapi Perjanjian
Hudaibiyah
     Pada waktu perjanjian Hudaibiyah (sebelum Makkah di kuasai) kaum muslim bersama Nabi Saw pergi ke Makkah untuk berziarah ke Baitul Haram (Ka'bah). Hal itu sesuaijanji Rasulullah Saw kepada para sahabat untuk memasuki Makkah. Ketika mereka sudah dekat Makkah, mereka melihat seolah-olah Ka'bah melambai-lambai menantikan kedatangan mereka. Harapan manis pun memenuhi hati mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan berita pembatalan ziarah atas perintah Rasulullah Saw sesuai dengan perintah Allah Swt. Maka terjadilah kericuhan di kalangan kaum muslim.

     Mereka bertanya kepda Rsulullah Saw, "Ya, Rasulullah, mengapa kita mengalah dalam urusan agama kita?" Bahkan Umar Ra pun berkata kepadanya, "Ya, Rasulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan? Bukankah kita orang-orang beriman dan mereka orang-orang musrik? Mengapa kita menerima penghinaan dalam urusan agama kita."
     Rasulullah Saw menjawab,  "Demikian itulah yang diperintahkan Allah kepadaku."
Tapi jawaban tersebut belum memuaskan Umar Ra, maka dia pergi menemui Abubakar Ra dan berkata, "Bukankah kita sudah dijanjikan Nabi Saw untuk memasuki Makkah?"

    Abubakar Ra menjawab, "Apakah Nabi Saw menjanjikan tahun ini?  Alangkah kelirunya kamu, ya, Umar. Berpegang teguhlah kepada firasat beliau, dia benar-benar seorang Rasul." Demikianlah jawaban yang diberikan Abubakar Ra, Di saat kaum muslim meragukan sabda rasulNya, ia tetap beriman kepada kebenaran Rasulullah Saw.



Bersambung..,  2